Hari ini aku merasa senang.Senang karena kekasihku yang lama pergi ke Surabaya akan kembali pulang ke Bandung.Tapi mengapa sampai detik ini ia belum memberi kabar padaku.Kontaknyapun mungkin kini telah diganti karena nomornya yang lama tak dapat dihubungi lagi.Tapi bukankah dulu sebelum ia pergi,ia sudah berjanji padaku bahwa tanggal 5 Januari 2009 ia akan kembali pulang.Itu berarti,hari ini bukan?
Aku segera mengeluarkan motorku yang berada di garasi belakang.Ku panasi motor yang akan aku pakai itu.Setelah itu,akupun segera meluncur ke stasiun untuk menjemput kekasihku itu.
***
Sudah 3 jam aku menunggu disini,namun tak kulihat kekasihku itu nampak turun dari kereta.Padahal sudah ada 7 kereta dari arah Surabaya yang sedari tadi hilir mudik.Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 12.35 WIB.
Udara siang inipun terasa sangat panas.Namun hal ini tak membuatku menyerah untuk menunggu kekasihku datang.Semakin lama haripun semakin sore.Namun aku belum juga melihat kekasihku menampakkan dirinya.
Ku lihat lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.Itu artinya detik ini rembulan sudah mulai menampakkan keindahannya.Aku beranjak dari dudukku kemudian mendekat ke arah bibir rel kereta api.Ku pandang langit malam yang cerah itu.Kulipat tanganku didepan dada,memeluk erat tubuhku sendiri.Seakan mencari kehangatan di malam yang dingin ini.Ku pejamkan sejenak mataku untuk berdo’a.
“Tuhaaann,sampaikan padanya bahwa aku menunggunya saat ini.Sampaikan pula bahwa aku rindu akan sosoknya yang selalu menemaniku dulu.” Ucapku dalam hati.
Setelah berdo’a,aku kembali membuka mataku.Kemudian aku beranjak pergi menuju tempat parkir stasiun untuk segera pulang.Ketika aku berjalan,ku dengar ada seseorang yang memanggilku.
“Alikaaaaa...!!” Panggilnya dengan suara lantang.
Aku terkejut sambil menghentikan langkahku.Aku berharap itu adalah Rafael,kekasihku yang sejak tadi pagi ku tunggu kedatangannya.Akupun segera berbalik badan dan memastikan bahwa Rafael lah yang memanggilku tadi.
“Raf..fa..ell...” Ucapanku semakin melirih.Aku terkejut,ternyata bukan Rafael yang memanggilku.Sosok itu kemudian berlari menghampiriku yang berada di ambang pintu stasiun.
“Eh Bisma,kirain Rafael.” Kataku seraya menundukkan kepala.
“Kamu nungguin Rafael? Dari kapan?” Tanya Bisma memegang pundakku.Aku segera mendongakkan kembali wajahku.
“Dari tadi pagi.” Jawabku dengan paksaan senyum di bibirku.
“Apa,dari tadi pagi? Dan sampai saat ini dia belum datang?” Tanya Bisma lagi dengan nada emosi.
Aku hanya tersenyum,membuatnya yakin bahwa tak ada masalah yang menerpaku saat ini.Bagiku ini adalah hal biasa,mungkin ia lupa bahwa hari ini ia akan kembali pulang.Aku berusaha untuk memakluminya saja.
“Kamu darimana? Jam segini baru pulang?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku dari Jakarta,tadi ada pemotretan di salah satu Agency di Jakarta.Males naik mobil,jadi naik kereta ajah deh.” Jawabnya sambil tersenyum,menampakkan sederet behel yang terpasang di giginya.
“Ciieehh,yang jadi model.” Godaku.Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Bisma,walaupun saat ini aku merasakan gundah yang luar biasa.
“Apa sih? Udah deh,jadi malu aku.” Kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Pulang yuk! Udah malem nih.Kamu bawa motor kan?” Tanya Bisma.
“Iyah.’ Jawabku tersenyum.
“Sini aku boncengin.Kamu aku antar pulang yah!”
“Trus kamu pulangnya?”
“Aku gampang! Lagian kamu kan cewek,gak baik pulang sendirian malem-malem gini.” Kata Bisma mengacak pelan rambutku.
“Oke.” Jawabku kemudian.Akupun segera menyerahkan kunci motorku kepada Bisma dan kamipun segera pergi dari stasiun ini.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun.Sudah 2 minggu ini aku bolak-balik stasiun untuk menjemput Rafael.Namun apa hasilnya? NIHIL.
Selama 2 minggu ini Rafael tak nampak di stasiun ini.Padahal pada janjinya dulu,harusnya ia sudah pulang 2 minggu yang lalu.Aku melamun dengan sendirinya.Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda bahwa ada telepon masuk.Akupun segera sadar dari lamunanku itu kemudian segera mengangkat telepon.
“Halo..” Kataku ramah.
“Haloo Alika.Gimana kabar kamu?” Tanya suara itu yang sangat aku kenal.
“Rafael,aku kira kamu udah lupa sama aku.Kabarku baik kok Raf,kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanyaku gembira.Bahkan saking gembiranya akupun terperanjat dari dudukku dan melompat-lompat bagaikan anak kecil yang telah mendapatkan apa yang diinginkan.Sampai-sampai aku lupa,bahwa sekarang aku sedang berada di tempat umum.
Setelah beberapa menit mengobrol lewat telepon,akhirnya teleponpun disudahi.Aku kembali pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.Bahagia karena sabtu besok Rafael positif akan pulang ke Bandung.
***
Aku melihat sosok Bisma berjalan melewati koridor kampus.Ku panggil ia dengan suara lantang.
“Bismaaaa...” Teriakku.Bismapun menghentikan jalannya dan berbalik badan,kemudian akupun berlari untuk menghampirinya.
“Alika,ada apa? Tumben manggil aku?” Tanya Bisma.
“Gak papa.Lama gak ketemu yah? Lagi Sibuk yah kamuu?” Kataku mulai menggodanya lagi.
“Yaaa,seperti yang kamu tahu Al.” Katanya tersenyum.
Kamipun melanjutkan jalan menuju ke kantin.Sekedar untuk sharing dan akupun mulai menceritakan pada Bisma tentang semua hal yang aku alami kemarin.
“Oh iyah Al,besok sabtu Rafael pulang kan?” Tanya Bisma disela-sela curhatku.
“Iya Bis,besok kita jemput Rafael yuk Bis di stasiun!” Ajakku.
“Sorry nih Al,bukannya aku gak mau nih,tapi sabtu besok kebetulan aku ada pemotretan lagi nih di Jakarta.Gimana dong?” Kata Bisma sambil mengernyitkan dahinya.
“Yaudah kalo gitu.Aku berangkat sendiri ajah deh.” Kataku menebarkan senyum bahagiaku.
“Kamu gak papa kan sendiri?” Tanya Bisma.
“Gak papa kok Bis.”
***
Hari ini aku sudah berada di stasiun.Aku hanya berangkat sendiri,karena Bisma tidak bisa ikut denganku untuk menjemput Rafael.Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.
“Masih jam 09.00 WIB.” Kataku lirih.Tiba-tiba kereta api dari arah Surabaya datang.Aku segera beranjak dan mulai celingukan mencari Rafael.
“Rafael lewat mana yaa?” Batinku sambil masih celingukan.
Tiba-tiba aku melihat Rafael turun dari kereta tersebut sambil menggandeng seorang perempuan.Siapakah perempuan itu? Adiknyakah? Tapi kurasa bukan.Adiknya berada disini,dan kulihat wajahnyapun juga sangat asing bagiku.Dengan beribu pertanyaan dalam batinku,akupun mulai menghampiri Rafael.
“Haii Raf.” Sapaku.Aku melihat gelagat Rafael yang terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disini.
“Eh Alika.Kamu ngapain disini?” Tanya Rafael dengan tampang yang gugup.
“Aku disini? Ya mau jemput kamu lah Raf!” Kataku sambil menepuk pelan bahu Rafael.
“Oh iyah Raf,itu siapa? Saudara kamu yaa?” Tanyaku dengan senyum yang berbinar.Belum sempat Rafael menjawab,akupun mengenalkan diriku pada perempuan itu.
“Hai aku Alika,pacarnya Rafael.Kamu siapa ya?” Kataku sambil mengulurkan tangan.Pandangannya sungguh menakutkan.Ia melirik ke arah Rafael,dan kulihat Rafael juga takut dengan pandangannya.
“Saya Marsha,tunangannya Rafael.” Ucapnya dengan nada sedikit memojokkan.
Aku terdiam sejenak mendengar perkataan perempuan itu.Tubuhku kaku seperti terkena aliran listrik ribuan watt.Hatiku seperti tersambar petir yang menggelegar.Air mataku serasa sudah di ujung pelupuk mata.Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.Apakah ini adalah sebuah kejutan yang telah dirangkai Rafael sebelumnya,atau ini adalah fakta.
Ku pandang Rafael dengan penuh rasa berharap.Berharap bahwa semua ini hanyalah sandiwara belaka.Namun Rafael hanya menggelengkan kepalanya.Ia lalu mulai mendekati perempuan yang bernama Marsha itu,kemudian aku melihat ia berbisik kepada Marsha.Setelah itu,kulihat Marsha mulai berjalan keluar stasiun mendahului Rafael dan kemudian iapun mulai mendekatiku.
“Besok akan aku jelaskan.Aku tunggu kamu disini tepat jam 09.00 WIB.I love you Alika.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku lalu pergi meninggalkanku yang terbujur kaku di bibir pintu kereta api.
Pengunjung stasiun berlalu lalang melewatiku.Aku kembali mundur dan duduk terkulai lemas di kursi tunggu stasiun.Aku menangis,tak menyangka bahwa Rafael akan setega ini.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati dan memberiku sebuah saputangan.
“Ini buatmu! Jangan nangis lagi yah! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang Rafael!” Katanya yang lalu duduk di sampingku.Aku segera mengambil saputangan itu dan segera melihat siapa yang memberiku saputangan ini.
“Bisma..” Kataku terkejut.
“Makasih saputangannya.Tapi bukannya kamu ada pemotretan di Jakarta ya?” Tanyaku sambil melap air mataku.
“Tadinya sih ada,tapi jadwalnya di undurin jadi minggu depan.Aku fikir,daripada aku dirumah sendirian,mendingan aku susulin kamu.Eh tapi ternyata,kamu disini bukannya seneng malah nangis.” Jelasnya sambil mengernyitkan dahinya.Aku diam sejenak,lalu aku mulai angkat bicara.
“Bis,Rafael...” Kata-kataku terpotong.
“Rafael punya gandengan baru kan?” Ucap Bisma.Aku menganggukan kepalaku.
“Tadi aku ketemu dia sama cewek lain didepan.Aku kira cewek itu kamu,ternyata setelah aku deketin itu bukan kamu.Yaudah,sabar ajah! Dia begitu pasti ada alasannya kok.” Ucap Bisma lagi.
“Udah ah,pulang yuk! Biar kamu bisa lanjutin nangismu itu dirumah.Kan gak enak kalo nangis disini.Dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.Kan gak lucu dong?” Kata Bisma yang mulai mencoba untuk menghiburku dengan senyum khasnya.Akupun menurut,dan kamipun segera beranjak pulang.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun untuk menemui Rafael.Ia bilang,ia akan datang menemuiku tepat pukul 09.00 WIB.Ku lirik jam tanganku.
“5 menit lagi.” Kataku tak sabar.
Belum tepat pukul 09.00 WIB,Rafael sudah menampakkan dirinya.Ku lihat ia kebingungan mencari keberadaanku.Akupun melambaikan tanganku dan ia pun berlari untuk segera mendekatiku.
“Hai Alikaa.” Sapanya.
“Hai Raf.” Balasku.
“Maaf atas perlakuanku kemarin.Aku rindu padamu Al,sangat rindu.” Katanya yang langsung memelukku.
Pelukan ini,pelukan yang dulu ku rasa hangat dan nyaman,sekarang terasa hambar.Ku rasa pula saat ini adalah pelukan terakhirku yang tak akan pernah ku rasakan lagi bersama Rafael kelak.Aku tak mampu lagi untuk membalas pelukannya.Air mataku serasa telah di ujung pelupuk mata.Ku lepaskan pelukan itu sambil menyeka air mataku.
“Kamu kesini bukannya mau jelasin sesuatu yah? Ayo dong jelasin ke aku,jangan bikin aku penasaran gini.” Kataku lembut mencoba kembali bersabar.Kamipun duduk di kursi tunggu stasiun.
***
“Sebenarnya aku juga gak cinta sama Marsha,tapi mau gimana lagi? Aku hutang budi sama Papanya yang udah bikin aku sesukses ini.” Jelasnya.
“Lalu bagaimana dengan aku Raf? Dengan hubungan kita yang udah lebih dari 5 tahun ini?” Tanyaku yang mulai serius.
“Lebih baik kamu lupakan aku! Aku ini bukan yang terbaik untukmu.Aku tak ingin membuatmu sakit hati terus-menerus.” Jawabnya dengan suara yang mulai parau.
“Maksudmu,hubungan kita cukup sampai disini Raf?”
Rafael tak mampu menjawab.Ia hanya sanggup menganggukkan kepaalanya,menandakan bahwa keputusannya untuk berpisah denganku sudah bulat.Akupun mulai beranjak dari dudukku.
“Oke,kalau itu maumu aku yang akan pergi dari kehidupanmu! Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.Semoga kamu bahagia dengan Marsha-mu itu Raf!” Kataku yang mulai beranjak emosi.Aku dengan sigap melepaskan kemudian melemparkan sebuah cincin pemberian Rafael dulu yang selalu ada di jari manisku.
Aku berlari meninggalkan ia yang meratapi keputusannya.Dari jauh ku lihat ia menangis,menyesali semuanya.Aku tahu ia pasti juga sakit hati dan merasakan rapuh di jiwanya.Tapi apakah ia tahu bahwa aku lebih sakit hati dan rapuh di banding ia? Namun aku selalu mencoba untuk menepis semua perasaan itu.Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang tegar,kuat dan mampu menahan segala rasa sakit yang aku rasakan.
Aku terus berlari.Pergi menjauh dari stasiun ini.Stasiun yang menyisakan sebuah memory tentang kesetiaanku yang hanya berujung luka.Stasiun yang telah menyaksikan perjalanan cintaku selama 2 minggu terakhir ini.Stasiun yang telah menjadi saksi kepedihan cintaku berpisah dengan orang yang selama ini aku tunggu dan aku cinta.
THE END
Aku segera mengeluarkan motorku yang berada di garasi belakang.Ku panasi motor yang akan aku pakai itu.Setelah itu,akupun segera meluncur ke stasiun untuk menjemput kekasihku itu.
***
Sudah 3 jam aku menunggu disini,namun tak kulihat kekasihku itu nampak turun dari kereta.Padahal sudah ada 7 kereta dari arah Surabaya yang sedari tadi hilir mudik.Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 12.35 WIB.
Udara siang inipun terasa sangat panas.Namun hal ini tak membuatku menyerah untuk menunggu kekasihku datang.Semakin lama haripun semakin sore.Namun aku belum juga melihat kekasihku menampakkan dirinya.
Ku lihat lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.Itu artinya detik ini rembulan sudah mulai menampakkan keindahannya.Aku beranjak dari dudukku kemudian mendekat ke arah bibir rel kereta api.Ku pandang langit malam yang cerah itu.Kulipat tanganku didepan dada,memeluk erat tubuhku sendiri.Seakan mencari kehangatan di malam yang dingin ini.Ku pejamkan sejenak mataku untuk berdo’a.
“Tuhaaann,sampaikan padanya bahwa aku menunggunya saat ini.Sampaikan pula bahwa aku rindu akan sosoknya yang selalu menemaniku dulu.” Ucapku dalam hati.
Setelah berdo’a,aku kembali membuka mataku.Kemudian aku beranjak pergi menuju tempat parkir stasiun untuk segera pulang.Ketika aku berjalan,ku dengar ada seseorang yang memanggilku.
“Alikaaaaa...!!” Panggilnya dengan suara lantang.
Aku terkejut sambil menghentikan langkahku.Aku berharap itu adalah Rafael,kekasihku yang sejak tadi pagi ku tunggu kedatangannya.Akupun segera berbalik badan dan memastikan bahwa Rafael lah yang memanggilku tadi.
“Raf..fa..ell...” Ucapanku semakin melirih.Aku terkejut,ternyata bukan Rafael yang memanggilku.Sosok itu kemudian berlari menghampiriku yang berada di ambang pintu stasiun.
“Eh Bisma,kirain Rafael.” Kataku seraya menundukkan kepala.
“Kamu nungguin Rafael? Dari kapan?” Tanya Bisma memegang pundakku.Aku segera mendongakkan kembali wajahku.
“Dari tadi pagi.” Jawabku dengan paksaan senyum di bibirku.
“Apa,dari tadi pagi? Dan sampai saat ini dia belum datang?” Tanya Bisma lagi dengan nada emosi.
Aku hanya tersenyum,membuatnya yakin bahwa tak ada masalah yang menerpaku saat ini.Bagiku ini adalah hal biasa,mungkin ia lupa bahwa hari ini ia akan kembali pulang.Aku berusaha untuk memakluminya saja.
“Kamu darimana? Jam segini baru pulang?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku dari Jakarta,tadi ada pemotretan di salah satu Agency di Jakarta.Males naik mobil,jadi naik kereta ajah deh.” Jawabnya sambil tersenyum,menampakkan sederet behel yang terpasang di giginya.
“Ciieehh,yang jadi model.” Godaku.Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Bisma,walaupun saat ini aku merasakan gundah yang luar biasa.
“Apa sih? Udah deh,jadi malu aku.” Kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Pulang yuk! Udah malem nih.Kamu bawa motor kan?” Tanya Bisma.
“Iyah.’ Jawabku tersenyum.
“Sini aku boncengin.Kamu aku antar pulang yah!”
“Trus kamu pulangnya?”
“Aku gampang! Lagian kamu kan cewek,gak baik pulang sendirian malem-malem gini.” Kata Bisma mengacak pelan rambutku.
“Oke.” Jawabku kemudian.Akupun segera menyerahkan kunci motorku kepada Bisma dan kamipun segera pergi dari stasiun ini.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun.Sudah 2 minggu ini aku bolak-balik stasiun untuk menjemput Rafael.Namun apa hasilnya? NIHIL.
Selama 2 minggu ini Rafael tak nampak di stasiun ini.Padahal pada janjinya dulu,harusnya ia sudah pulang 2 minggu yang lalu.Aku melamun dengan sendirinya.Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda bahwa ada telepon masuk.Akupun segera sadar dari lamunanku itu kemudian segera mengangkat telepon.
“Halo..” Kataku ramah.
“Haloo Alika.Gimana kabar kamu?” Tanya suara itu yang sangat aku kenal.
“Rafael,aku kira kamu udah lupa sama aku.Kabarku baik kok Raf,kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanyaku gembira.Bahkan saking gembiranya akupun terperanjat dari dudukku dan melompat-lompat bagaikan anak kecil yang telah mendapatkan apa yang diinginkan.Sampai-sampai aku lupa,bahwa sekarang aku sedang berada di tempat umum.
Setelah beberapa menit mengobrol lewat telepon,akhirnya teleponpun disudahi.Aku kembali pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.Bahagia karena sabtu besok Rafael positif akan pulang ke Bandung.
***
Aku melihat sosok Bisma berjalan melewati koridor kampus.Ku panggil ia dengan suara lantang.
“Bismaaaa...” Teriakku.Bismapun menghentikan jalannya dan berbalik badan,kemudian akupun berlari untuk menghampirinya.
“Alika,ada apa? Tumben manggil aku?” Tanya Bisma.
“Gak papa.Lama gak ketemu yah? Lagi Sibuk yah kamuu?” Kataku mulai menggodanya lagi.
“Yaaa,seperti yang kamu tahu Al.” Katanya tersenyum.
Kamipun melanjutkan jalan menuju ke kantin.Sekedar untuk sharing dan akupun mulai menceritakan pada Bisma tentang semua hal yang aku alami kemarin.
“Oh iyah Al,besok sabtu Rafael pulang kan?” Tanya Bisma disela-sela curhatku.
“Iya Bis,besok kita jemput Rafael yuk Bis di stasiun!” Ajakku.
“Sorry nih Al,bukannya aku gak mau nih,tapi sabtu besok kebetulan aku ada pemotretan lagi nih di Jakarta.Gimana dong?” Kata Bisma sambil mengernyitkan dahinya.
“Yaudah kalo gitu.Aku berangkat sendiri ajah deh.” Kataku menebarkan senyum bahagiaku.
“Kamu gak papa kan sendiri?” Tanya Bisma.
“Gak papa kok Bis.”
***
Hari ini aku sudah berada di stasiun.Aku hanya berangkat sendiri,karena Bisma tidak bisa ikut denganku untuk menjemput Rafael.Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.
“Masih jam 09.00 WIB.” Kataku lirih.Tiba-tiba kereta api dari arah Surabaya datang.Aku segera beranjak dan mulai celingukan mencari Rafael.
“Rafael lewat mana yaa?” Batinku sambil masih celingukan.
Tiba-tiba aku melihat Rafael turun dari kereta tersebut sambil menggandeng seorang perempuan.Siapakah perempuan itu? Adiknyakah? Tapi kurasa bukan.Adiknya berada disini,dan kulihat wajahnyapun juga sangat asing bagiku.Dengan beribu pertanyaan dalam batinku,akupun mulai menghampiri Rafael.
“Haii Raf.” Sapaku.Aku melihat gelagat Rafael yang terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disini.
“Eh Alika.Kamu ngapain disini?” Tanya Rafael dengan tampang yang gugup.
“Aku disini? Ya mau jemput kamu lah Raf!” Kataku sambil menepuk pelan bahu Rafael.
“Oh iyah Raf,itu siapa? Saudara kamu yaa?” Tanyaku dengan senyum yang berbinar.Belum sempat Rafael menjawab,akupun mengenalkan diriku pada perempuan itu.
“Hai aku Alika,pacarnya Rafael.Kamu siapa ya?” Kataku sambil mengulurkan tangan.Pandangannya sungguh menakutkan.Ia melirik ke arah Rafael,dan kulihat Rafael juga takut dengan pandangannya.
“Saya Marsha,tunangannya Rafael.” Ucapnya dengan nada sedikit memojokkan.
Aku terdiam sejenak mendengar perkataan perempuan itu.Tubuhku kaku seperti terkena aliran listrik ribuan watt.Hatiku seperti tersambar petir yang menggelegar.Air mataku serasa sudah di ujung pelupuk mata.Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.Apakah ini adalah sebuah kejutan yang telah dirangkai Rafael sebelumnya,atau ini adalah fakta.
Ku pandang Rafael dengan penuh rasa berharap.Berharap bahwa semua ini hanyalah sandiwara belaka.Namun Rafael hanya menggelengkan kepalanya.Ia lalu mulai mendekati perempuan yang bernama Marsha itu,kemudian aku melihat ia berbisik kepada Marsha.Setelah itu,kulihat Marsha mulai berjalan keluar stasiun mendahului Rafael dan kemudian iapun mulai mendekatiku.
“Besok akan aku jelaskan.Aku tunggu kamu disini tepat jam 09.00 WIB.I love you Alika.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku lalu pergi meninggalkanku yang terbujur kaku di bibir pintu kereta api.
Pengunjung stasiun berlalu lalang melewatiku.Aku kembali mundur dan duduk terkulai lemas di kursi tunggu stasiun.Aku menangis,tak menyangka bahwa Rafael akan setega ini.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati dan memberiku sebuah saputangan.
“Ini buatmu! Jangan nangis lagi yah! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang Rafael!” Katanya yang lalu duduk di sampingku.Aku segera mengambil saputangan itu dan segera melihat siapa yang memberiku saputangan ini.
“Bisma..” Kataku terkejut.
“Makasih saputangannya.Tapi bukannya kamu ada pemotretan di Jakarta ya?” Tanyaku sambil melap air mataku.
“Tadinya sih ada,tapi jadwalnya di undurin jadi minggu depan.Aku fikir,daripada aku dirumah sendirian,mendingan aku susulin kamu.Eh tapi ternyata,kamu disini bukannya seneng malah nangis.” Jelasnya sambil mengernyitkan dahinya.Aku diam sejenak,lalu aku mulai angkat bicara.
“Bis,Rafael...” Kata-kataku terpotong.
“Rafael punya gandengan baru kan?” Ucap Bisma.Aku menganggukan kepalaku.
“Tadi aku ketemu dia sama cewek lain didepan.Aku kira cewek itu kamu,ternyata setelah aku deketin itu bukan kamu.Yaudah,sabar ajah! Dia begitu pasti ada alasannya kok.” Ucap Bisma lagi.
“Udah ah,pulang yuk! Biar kamu bisa lanjutin nangismu itu dirumah.Kan gak enak kalo nangis disini.Dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.Kan gak lucu dong?” Kata Bisma yang mulai mencoba untuk menghiburku dengan senyum khasnya.Akupun menurut,dan kamipun segera beranjak pulang.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun untuk menemui Rafael.Ia bilang,ia akan datang menemuiku tepat pukul 09.00 WIB.Ku lirik jam tanganku.
“5 menit lagi.” Kataku tak sabar.
Belum tepat pukul 09.00 WIB,Rafael sudah menampakkan dirinya.Ku lihat ia kebingungan mencari keberadaanku.Akupun melambaikan tanganku dan ia pun berlari untuk segera mendekatiku.
“Hai Alikaa.” Sapanya.
“Hai Raf.” Balasku.
“Maaf atas perlakuanku kemarin.Aku rindu padamu Al,sangat rindu.” Katanya yang langsung memelukku.
Pelukan ini,pelukan yang dulu ku rasa hangat dan nyaman,sekarang terasa hambar.Ku rasa pula saat ini adalah pelukan terakhirku yang tak akan pernah ku rasakan lagi bersama Rafael kelak.Aku tak mampu lagi untuk membalas pelukannya.Air mataku serasa telah di ujung pelupuk mata.Ku lepaskan pelukan itu sambil menyeka air mataku.
“Kamu kesini bukannya mau jelasin sesuatu yah? Ayo dong jelasin ke aku,jangan bikin aku penasaran gini.” Kataku lembut mencoba kembali bersabar.Kamipun duduk di kursi tunggu stasiun.
***
“Sebenarnya aku juga gak cinta sama Marsha,tapi mau gimana lagi? Aku hutang budi sama Papanya yang udah bikin aku sesukses ini.” Jelasnya.
“Lalu bagaimana dengan aku Raf? Dengan hubungan kita yang udah lebih dari 5 tahun ini?” Tanyaku yang mulai serius.
“Lebih baik kamu lupakan aku! Aku ini bukan yang terbaik untukmu.Aku tak ingin membuatmu sakit hati terus-menerus.” Jawabnya dengan suara yang mulai parau.
“Maksudmu,hubungan kita cukup sampai disini Raf?”
Rafael tak mampu menjawab.Ia hanya sanggup menganggukkan kepaalanya,menandakan bahwa keputusannya untuk berpisah denganku sudah bulat.Akupun mulai beranjak dari dudukku.
“Oke,kalau itu maumu aku yang akan pergi dari kehidupanmu! Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.Semoga kamu bahagia dengan Marsha-mu itu Raf!” Kataku yang mulai beranjak emosi.Aku dengan sigap melepaskan kemudian melemparkan sebuah cincin pemberian Rafael dulu yang selalu ada di jari manisku.
Aku berlari meninggalkan ia yang meratapi keputusannya.Dari jauh ku lihat ia menangis,menyesali semuanya.Aku tahu ia pasti juga sakit hati dan merasakan rapuh di jiwanya.Tapi apakah ia tahu bahwa aku lebih sakit hati dan rapuh di banding ia? Namun aku selalu mencoba untuk menepis semua perasaan itu.Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang tegar,kuat dan mampu menahan segala rasa sakit yang aku rasakan.
Aku terus berlari.Pergi menjauh dari stasiun ini.Stasiun yang menyisakan sebuah memory tentang kesetiaanku yang hanya berujung luka.Stasiun yang telah menyaksikan perjalanan cintaku selama 2 minggu terakhir ini.Stasiun yang telah menjadi saksi kepedihan cintaku berpisah dengan orang yang selama ini aku tunggu dan aku cinta.
THE END