Minggu, 15 September 2013

Haaa??


Aku duduk, terpojok di sudut kamar. Aku menangis, menangisi apa yang telah terjadi pada Kak Reihan. Tissue yang basah mulai berceceran di dalam kamarku. Kak Reihan, dia adalah kakak kelasku yang kebetulan juga seseorang yang sedang dekat denganku akhir-akhir ini. Sikapnya berubah semenjak banyak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini. Mulai dari masalah organisasi, percintaannya yang bertepuk sebelah tangan, dan keluarganya yang sedang berada di ambang kehancuran.
“Kak Reihaaann.. Kamu kenapa sih Kak?” batinku sambil masih menangis. Entah mengapa rasanya berat ketika aku harus mendekati dan perlahan menyentuh hatinya untuk segera tenang. Aku takut. Takut kalau-kalau ia malah akan semakin marah. Tidak biasanya ia seperti ini. Aku tidak bisa berbicara apa-apa padanya. Aku hanya bisa memberikan waktu padanya supaya tenang dan siap bercerita kepadaku.
***
Aku berjalan melewati koridor sekolah, kemudian aku berbelok arah menuju ke kelas yang berada di dalam lorong sekolah. Hari ini ada pertemuan OSIS yang kebetulan aku dan Kak Reihan adalah satu organisasi. Huffttt... Rasanya aku malas bertemu dengannya. Aku tidak ingin melihat raut wajahnya yang dipenuhi rasa emosi itu. Aku mulai duduk dibangkuku yang berada dideretan paling depan. Pandanganku kosong menatap ke depan. Tiba-tiba seseorang datang mengagetkanku.
“Dooorrr..!! Pagi-pagi udah ngelamun aja neng,” ucapnya.
“Hanaaa.. Kamu ngagetin tau gak,” rengekku.
“Ya maaf Ra. Lagian kamu pagi-pagi udah ngelamun aja. Kenapaa??” Tanya Hana.
“Kak Reihan berubah. Aku sedih. Gak biasanya dia begini,” kataku menundukkan kepalaku. Air mataku kembali membendung.
“Udahlah, diemin aja. Mungkin dia lagi banyak masalah. Besok-besok juga dia bakalan balik lagi kayak biasanya,”
“Tapi Naa...” Ucapanku terpotong ketika seorang guru datang dan memulai pelajaran pagi ini.
Aku mengalihkan pandanganku menuju ke luar jendela. Semilir angin pagi membelai lembut rambutku yang kini mulai menari-nari. Air mata ini tiba-tiba menetes. Aku segera menyekanya supaya teman dan guruku tidak menyadari bahwa aku sedang menangis. Hari ini teman-temanku tidak berani mendekatiku karena mereka bisa melihat, bahwa moodku sedang berantakan. Selama pelajaran berlangsung aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Yang aku pikirkan hanya Kak Reihan, Kak Reihan, dan Kak Reihan.
Kenapa dia jadi seperti ini sih? Semua ini membuatku menjadi serba salah. Aku bingung. Kenapa tiba-tiba moodku juga jadi ikut berubah ketika Kak Reihan juga berubah? Entahlah, aku tidak mengerti dengan semua permainan hati ini.
***
Siang ini rapat OSIS dimulai. Kak Reihan selaku ketua panitia acara HUT SMA NUSA ke-50 memimpin jalannya rapat koordinasi ini. Sikapnya seenaknya, nada bicaranya menyindir, dan raut wajahnya masih tetap sama. Raut wajah emosi. Udara siang ini yang terasa panas, menjadi semakin panas.
“Ada yang ingin mengeluh tentang kepemimpinan saya?” Tanya Kak Reihan yang menatap wajah teman-teman dengan sinisnya. Aku hanya bisa menatapnya sayu.
“Ada yang ingin mengeluh tentang kepemimpinan saya?” Tanya Kak Reihan lagi dengan nada yang hampir tinggi. Aku mulai menatapnya dengan penuh rasa emosi. Tweet demi tweet aku tuliskan ditwitter untuk mengumpatnya.
“Kenapa pada diem semua? Ayoo jawab pertanyaan saya!” Teriak Kak Reihan lagi. Sunyi, tak ada yang berani menjawabnya. Tak lama kemudian Kak Farid mulai angkat bicara.
“Han, kamu itu kalo lagi ada masalah jangan di bawa ke forum dong! Kasihan temen-temen yang lain kalau kayak gini,” ucap Kak Farid.
“Kenapa? Kamu gak suka?” Tanya Kak Reihan dengan ngototnya.
“Bukannya gitu Han. Kasihan sama temen-temen yang lain yang udah siap sama acaranya. Ini kita H- berapa coba? Kamu bayangin kalau mental mereka kebanting kayak gini cuman gara-gara sifatmu, gara-gara kamu bawa masalahmu ke dalam forum ini.”
Aku mengalihkan pandanganku menuju ke belakang. Aku bersembunyi di balik punggung temanku, Laras. Air mata ini kembali menetes ketika semua teman mulai terdiam dan terpancing emosi.
“Laras, aku pengen nangis...” Ucapku sambil memeluk Laras yang ada di sampingku.
“Udah Ra, tenang aja. Semuanya bakalan balik kayak dulu lagi kok. Mungkin Kak Reihan cuman lagi tertekan aja,” ucap Laras sambil membelai rambutku.
Aku kembali ke posisi awal dan mulai menghapus air mataku. Ku rasa Kak Reihan melihat aku menangis sedari tadi. Aku memandang wajahnya yang terlihat merasa bersalah.
“Okee, aku minta maaf kalau sedari tadi aku memimpin rapat dengan seenaknya. Tapi itu semua karena aku merasa tertekan dengan semua masalah yang menimpaku. Aku memang bukan pemimpin yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi seorang pemimpin yang baik!” Ucapnya yang ku rasa mungkin sudah agak tenang. Aku menatapnya tersenyum, dan iapun juga membalas senyumku.
***
Bel istirahat mulai berbunyi. Semua murid berhamburan menuju ke segala arah, dan segala sudut sekolah. Aku bersama ke-2 sahabatku, Hana dan Diva, segera mematikan komputer yang ada di laboratorium komputer desain. Ketika aku melangkahkan kakiku keluar dari lab, dan berbelok ke arah kantin, ku lihat Kak Reihan bersandar pada tembok kantin sambil memainkan handphone-nya. Entah mengapa rasa malas bertemu dengan dia muncul lagi.
“Aku gak jadi ke kantin yaa,” kataku pada Hana dan Diva.
“Lhoo, kenapa Ra?” Tanya Hana.
“Tiba-tiba aja aku mendadak kenyang. Males ke kantin,” jawabku sekenanya.
“Kalian berdua aja ya yang ke kantin!” Kataku, lalu memutar arah menuju kelasku dan mulai berjalan cepat. Namun ku rasa, langkah kakiku ini masih terlalu lambat di banding langkah kaki Kak Reihan. Dengan cepat ia memotong jalanku, dan kini ia tepat berada di depanku. Rasa muak kembali menyelimuti hatiku. Muak dengan sifatnya yang tak pernah konsisten padaku.
“Sepertinya ada yang harus kita selesaikan!” Katanya tiba-tiba. Aku bingung. Apa yang harus di selesaikan? Bukannya tidak ada masalah antara aku dan Kak Reihan?
“Haaahhh..??” Ucapku sambil mengerutkan dahiku. Ia kemudian menunjukkan layar handphone-nya yang ternyata ia sedang membuka timeline twitterku.
“Ih Kak Reihan stalking ih,” ucapku memanyunkan bibir.
“Aku tunggu penjelasan kamu. Nanti ketemu di ruang OSIS jam 3 yaa!” Teriaknya lalu pergi meninggalkanku.
“Arrrggghhh... Menyebalkan, ini benar-benar menyebalkan!” Umpatku dalam hati.
***
Aku dengan cepat melangkahkan kakiku menuju parkiran sekolah. Namun nampaknya aku mulai kecolongan lagi. Ku lihat Kak Reihan baru saja keluar dari kamar mandi yang ada didekat parkiran.
“Arrgghh.. Sial,” batinku sambil menggigiti kuku tanganku. Kak Reihan dengan segera mendekati aku.
“Mau kemana? Kan kita ada janji. Kok mau pulang sih?” Dengus Kak Reihan.
“Males, capek,” kataku sekenanya.
“Kok gitu sih?”
Tiba-tiba Kak Reihan menggandeng tanganku dan membawaku menuju ke ruang OSIS. Di dalam ruang OSIS Kak Reihan hanya menatapku tajam. 5 menit, 10 menit, 20 menit, hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kak Reihan mulai sibuk dengan handphone-nya. Aku mulai kesal, jengkel. Untuk apa aku di bawa kesini kalau hanya untuk melihatnya bermain handphone? Arrgghh.. Menyebalkan!
“Mau pulang,” kataku jengkel. Aku beranjak dari dudukku. Namun tangan Kak Reihan kembali menarikku.
“Jangan pulang dulu. Aku butuh kamu, butuh penjelasanmu,” ucapnya menatapku penuh harap. Aku kembali duduk di sampingnya.
“Kita masih sahabatan kan?” Tanya Kak Reihan.
“Ehem..”
“Masih mau dengerin curhat aku?”
“Ehem..” Kak Reihan menghela nafas lalu mulai berbicara padaku.
“Ayah Bundaku berantem lagi, aku pusing Ra, pusing,” katanya dengan suara yang mulai parau. Aku mulai merasa iba, tersentuh dengan segala ceritanya. Ia mulai bercerita panjang lebar kepadaku.
Rasa ini kembali datang. Rasa yang tak dapat aku definisikan menjadi kata-kata.
“Oh iyaa, kamu kenapa nangisin aku beberapa hari yang lalu?” Tanya Kak Reihan tiba-tiba.
“Heh??” Ucapku terkejut. Aku salah tingkah lagi dibuatnya. Harus aku jawab apa pertanyaan ini?
“Hayoo kenapaa?? Gara-gara kamu sayang aku yaa?? Makanya kamu gak mau lihat aku berubah kayak kemarin. Ibarat kata, kamu takut aku kenapa-napa,” ucapnya cengengesan, menggodaku.
“Dihh.. Apaan deh Kak? Udah ah, mau pulang. Udah soree,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Udah yaa.. Bye Kakak jeleeekkk,” ucapku melambaikan tangan lalu berlari pergi menuju ke parkiran.
“Diraaaaa... Awas yaa kamu,” teriaknya dari jauh.
***

Hari ini Kak Reihan berulang tahun. Aku berjalan menuju ke ruang OSIS, menyusul teman-teman yang lain yang sudah berada di ruang OSIS terlebih dahulu. Sebuah kotak berwarna biru dongker ku bawa dengan senangnya.
“Mudah-mudahan Kak Reihan suka,” batinku. Aku terus berjalan, hingga akhirnya aku sampai di ujung lorong. Aku berbelok ke arah utara yang dimana ruang OSIS berada.
“Kak Reihan,” ucapku lirih.
Kotak berwarna biru dongker yang sedari tadi aku bawa, tanpa sadar terjatuh dari tanganku. Air mata ini mulai membendung. Aku berlari, pergi menjauh dari ruang OSIS itu. Arrgghh... Rasanya aku benar-benar hancur. Dari jauh aku mendengar Kak Reihan memanggil namaku dengan lantangnya. Tapi aku terus berlari tanpa menghiraukan panggilan itu.
***
Sudah beberapa hari ini aku menghindar dari Kak Reihan. Rasanya hancur ketika aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu. Hari ini rapat pengukuhan panitia HUT diadakan. Rasa malas untuk menghadiri rapat tersebut mulai menyelimuti hatiku. Dengan sekuat tenaga, aku mebcoba untuk mengesampingkan urusan pribadiku itu.
Setelah rapat usai, dengan cepat aku keluar dari ruang OSIS. Tapi seperti biasa, Kak Reihan menarik tanganku hingga memaksaku untuk kembali masuk ke ruang OSIS dan berhadapan lagi dengannya. Ruang OSIS mulai sepi. Hanya ada aku, Kak Reihan dan seorang teman lagi yang sepertinya sebentar lagi ia akan pulang.
“Kamu kenapa sih Ra akhir-akhir ini menghindar dari aku?” Tanya Kak Reihan dengan tatap mata yang serius.
“Gak papa,” jawabku singkat tanpa melihat wajahnya.
“Aku disini Ra! Lihat mukaku kek!” Perintahnya.
“Kak, aku capek. Mau pulang,” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan Kak Reihan sendiri.
***
Hari ini HUT SMA NUSA yang ke-50. Sederet acara yang sudah diprogramkan panitia HUT mulai dilaksanakan. Aku, selaku koordinator sie acara mulai sibuk kesana kemari mengonfirmasi acara selanjutnya kepada ketua panitia. Hal itu memaksaku untuk berhadapan langsung dengan Kak Reihan.
“Kak, abis pawai nanti dilanjut acara pensi yah!” ucapku pada Kak Reihan. Kak Reihan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Disaat aku ingin pergi untuk pengecekan barang-barang pensi, tiba-tiba Kak Reihan menarik lenganku lembut.
“Ada apa Kak?” Tanyaku.
“Kamu kenapa sih jadi berubah gini? Aku gak betah lama-lama kayak gini,” ucapnya.
“Kakak yang bikin aku kayak gini,”
“Maksud kamu?” Tanya Kak Reihan. Nampaknya ia masih bingung dengan omonganku tadi. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Berusaha menahan air mataku agar tidak terjatuh. Aku menghela nafas panjang.
“Maaf Kak, kerjaanku masih banyak. Mendingan kita ngurusin tugas masing-masing dulu!” Ucapku kemudian, lalu pergi.
***
Acara HUT hari ini telah usai. Rasa lelah mulai terasa. Namun dengan lancarnya acara HUT tadi, membuat aku dan teman-teman yang lain merasa puas. Rasanya semua kerja keras kami terbayarkan sudah. Semua tim panitia HUT berkumpul di ruang OSIS. Sebuah selang air panjang telah dipersiapkan untuk merayakan kesuksesan kami menjalankan acara. Dengan perlahan, Kak Reihan mulai mendekatiku lagi.
“Dira, maksud kamu ngomong kayak gitu tadi apa?” Tanya Kak Reihan.
“Omongan yang mana Kak?” Tanyaku bingung.
“Yang kamu bilang kalo aku yang bikin kamu berubah kayak gini,” jelas Kak Reihan. Aku menatap wajahnya, matanya. Dengan cepat bendungan air mata ini tumpah dan mulai membasahi pipiku.
“Dira, kok nangis sih?” Tanya Kak Reihan heran. Ia segera membelai lembut pipiku, menghapus air mata yang terjatuh di pipiku.
“Kakak gak peka,” ucapku dengan suara yang parau.
“Gak peka gimana Ra?”
Rasa emosiku mulai meluap, bangkit membangunkan sistem otakku untuk mengeluarkan amarah yang selama ini aku pendam. Rasa sakit dan rasa pedih akibat ketidak pekanya dia terhadap hatiku. Aku mulai menangis hebat, seperti orang yang terkena gangguan jiwa.
“Kakak gak pernah peka sama perasaan aku ke kakak. Kakak pikir selama ini aku ngehindar dari kakak kenapa? Karena aku cemburu kak, CEMBURU..” Ucapku mempertegas kata cemburu.
“..Kakak pikir waktu kakak ulang tahun terus tiba-tiba aku pergi itu kenapa kak? Yaa karena aku lihat kakak ngerangkul cewek lain. Kakak itu gak peka, gak pernah mencoba sedikitpun untuk ngertiin perasaan aku!”
“Siapa yang gak peka sekarang haa?? Aku apa kamu? Selama ini kita diem-dieman gini, terus aku bilang gak betah kita kayak gini terus itu kenapa? Karena aku suka sama kamu Ra, aku sayang sama kamu,” ucapnya yang tak kalah emosinya dengan aku.
Aku terkejut ketika Kak Reihan bilang, ‘aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.” Apa-apaan dia ini? Udah punya cewek lain, berani-beraninya dia mengucapkan itu padaku. Dia pikir aku ini cewek apaan? Berdebatan hati diantara kami masih terus berlanjut.
“Kakak apa-apaan sih? Sadar kak, kakak ini udah punya cewek. Inget cewekmu kak, ingeett!!”
“Cewek yang mana sih Ra? Yang waktu itu dateng ke ulang tahunku? Dia itu adek sepupuku Ra, bukan cewekku,”
“Haa??” Aku terkejut. Tiba-tiba saja air mata ini berhenti mengalir. Aku dan Kak Reihan saling bertatapan.
“Lihat mata aku Ra kalo kamu gak percaya. Di situ ada cinta buat kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya Kak Reihan dengan tatapan tajamnya.
“Iiihh, kakak gampang banget sih ngomongnya. Masih sesenggukan nih, tanggung jawab! Kakak jahat sih,” ucapku malu-malu. Aku menganggukan kepalaku tanda bahwa aku mau jadi pacarnya.
“Hahahaa.. Yaa maaf sayang, yang penting sekarang aku jadi punyamu kan?”
“Kakaaakkk...” Rengekku sambil memukul pelan pundaknya. Aku masih malu dengan semua kejadian ini. Kalau dipikir-pikir, aku childish juga ya? Hahahaa.. Tapi aku bahagia, ternyata selama ini perasaanku ke Kak Reihan gak sia-sia.
“Tapi ngomong-ngomong, kado ulang tahun dari kamu bagus juga. Makasih yaa, aku suka banget,” ucap Kak Reihan menarik hidungku.
“Hehee.. Iyaa, sama-sama Kak,”
Dengan tiba-tiba Laras menyiram aku dan Kak Reihan dengan air selang. Ternyata sedari tadi teman-teman juga tegang melihat perdebatan diantara aku dan Kak Reihan yang berujung ‘jadian’.
“Ciieeee jadiiaaann,” teriak teman-temanku. Aku dan Kak Reihan hanya bisa malu-malu meong.
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar