Aku terbaring di halaman rumah. Menatap lepas lautan awan yang ada di atasku. Memandang semu segerombolan awan yang berdesakkan. Ku pejamkan mataku, merasakan semilir angin malam yang membelai lembut tubuhku. Desahan angin malam, seakan-akan meniupkan namamu. Aku terperanjat, kemudian aku menatap lautan awan itu lagi. Aku makin terkejut ketika segerombolan awan tadi dengan tiba-tiba membentuk wajahmu. Wajah itu, wajah yang selalu membuatku bahagia.
Gemerlap bintang di atas, serupa kilau auramu. Bulan sabitpun seakan melengkungkan senyummu. Aku tersenyum menatap lautan wajahmu di langit lepas. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
"Gawat, aku ada janji sama Aldo."
Dengan segera aku terbangun. Aku berlari dengan cepat. Gemercik air hujan mulai berjatuhan. Aku terus berlari, tak peduli dengan air hujan yang perlahan kini mulai membasahi tubuhku. Air mata ini dengan tiba-tiba saja menetes.
"Aneh," batinku sambil menyeka air mata.
"Semoga aku gak telat."
Aku terus saja berlari, hingga akhirnya aku sampai di lokasi yang sudah di janjikan. Ku lihat Aldo berdiri tegap dengan tampannya. Ia melambaikan tangannya dan melemparkan senyum termanisnya padaku. Akupun membalas lambaian tangannya itu. Aku tersenyum lega. Ternyata aku tidak terlambat.
Aku menoleh ke kanan dan kiriku untuk menyeberangi jalan raya ini. Ketika ku rasa jalan agak lenggang aku berlari, mendekat menghampiri Aldo. Namun apa yang aku dapati? Tempat ini kosong, sepi. Padahal tadi jelas-jelas aku melihat Aldo ada di sini. Melambaikan tangan dan tersenyum manis padaku.
Tiba-tiba hujan turun lebih deras, seakan-akan alam juga merasakan apa yang aku rasakan. Ku rasa aku mulai rindu akan hadirnya Aldo di sini, di sampingku. Dengan segera aku tersadar, bahwa Aldo tak akan bisa kembali lagi di sini, di dunia ini. Ia sudah pergi jauh, jauh dari muka bumi ini. Aku tersungkur, menangis. Merasakan pedihnya rasa rindu yang tak tersalurkan ini.
"Aldo, aku kangen kamu. Happy anniversary," desahku lirih.
Gemerlap bintang di atas, serupa kilau auramu. Bulan sabitpun seakan melengkungkan senyummu. Aku tersenyum menatap lautan wajahmu di langit lepas. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.
"Gawat, aku ada janji sama Aldo."
Dengan segera aku terbangun. Aku berlari dengan cepat. Gemercik air hujan mulai berjatuhan. Aku terus berlari, tak peduli dengan air hujan yang perlahan kini mulai membasahi tubuhku. Air mata ini dengan tiba-tiba saja menetes.
"Aneh," batinku sambil menyeka air mata.
"Semoga aku gak telat."
Aku terus saja berlari, hingga akhirnya aku sampai di lokasi yang sudah di janjikan. Ku lihat Aldo berdiri tegap dengan tampannya. Ia melambaikan tangannya dan melemparkan senyum termanisnya padaku. Akupun membalas lambaian tangannya itu. Aku tersenyum lega. Ternyata aku tidak terlambat.
Aku menoleh ke kanan dan kiriku untuk menyeberangi jalan raya ini. Ketika ku rasa jalan agak lenggang aku berlari, mendekat menghampiri Aldo. Namun apa yang aku dapati? Tempat ini kosong, sepi. Padahal tadi jelas-jelas aku melihat Aldo ada di sini. Melambaikan tangan dan tersenyum manis padaku.
Tiba-tiba hujan turun lebih deras, seakan-akan alam juga merasakan apa yang aku rasakan. Ku rasa aku mulai rindu akan hadirnya Aldo di sini, di sampingku. Dengan segera aku tersadar, bahwa Aldo tak akan bisa kembali lagi di sini, di dunia ini. Ia sudah pergi jauh, jauh dari muka bumi ini. Aku tersungkur, menangis. Merasakan pedihnya rasa rindu yang tak tersalurkan ini.
"Aldo, aku kangen kamu. Happy anniversary," desahku lirih.












































