Minggu, 29 September 2013

Repost: Stasiun Jadi Saksi (Campusmagz edisi Agustus 2013)

Hari ini aku merasa senang.Senang karena kekasihku yang lama pergi ke Surabaya akan kembali pulang ke Bandung.Tapi mengapa sampai detik ini ia belum memberi kabar padaku.Kontaknyapun mungkin kini telah diganti karena nomornya yang lama tak dapat dihubungi lagi.Tapi bukankah dulu sebelum ia pergi,ia sudah berjanji padaku bahwa tanggal 5 Januari 2009 ia akan kembali pulang.Itu berarti,hari ini bukan?
    Aku segera mengeluarkan motorku yang berada di garasi belakang.Ku panasi motor yang akan aku pakai itu.Setelah itu,akupun segera meluncur ke stasiun untuk menjemput kekasihku itu.
***
    Sudah 3 jam aku menunggu disini,namun tak kulihat kekasihku itu nampak turun dari kereta.Padahal sudah ada 7 kereta dari arah Surabaya yang sedari tadi hilir mudik.Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 12.35 WIB.
    Udara siang inipun terasa sangat panas.Namun hal ini tak membuatku menyerah untuk menunggu kekasihku datang.Semakin lama haripun semakin sore.Namun aku belum juga melihat kekasihku menampakkan dirinya.
    Ku lihat lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.Itu artinya detik ini rembulan sudah mulai menampakkan keindahannya.Aku beranjak dari dudukku kemudian mendekat ke arah bibir rel kereta api.Ku pandang langit malam yang cerah itu.Kulipat tanganku didepan dada,memeluk erat tubuhku sendiri.Seakan mencari kehangatan di malam yang dingin ini.Ku pejamkan sejenak mataku untuk berdo’a.
“Tuhaaann,sampaikan padanya bahwa aku menunggunya saat ini.Sampaikan pula bahwa aku rindu akan sosoknya yang selalu menemaniku dulu.” Ucapku dalam hati.
    Setelah berdo’a,aku kembali membuka mataku.Kemudian aku beranjak pergi menuju tempat parkir stasiun untuk segera pulang.Ketika aku berjalan,ku dengar ada seseorang yang memanggilku.
“Alikaaaaa...!!” Panggilnya dengan suara lantang.
    Aku terkejut sambil menghentikan langkahku.Aku berharap itu adalah Rafael,kekasihku yang sejak tadi pagi ku tunggu kedatangannya.Akupun segera berbalik badan dan memastikan bahwa Rafael lah yang memanggilku tadi.
“Raf..fa..ell...” Ucapanku semakin melirih.Aku terkejut,ternyata bukan Rafael yang memanggilku.Sosok itu kemudian berlari menghampiriku yang berada di ambang pintu stasiun.
“Eh Bisma,kirain Rafael.” Kataku seraya menundukkan kepala.
“Kamu nungguin Rafael? Dari kapan?” Tanya Bisma memegang pundakku.Aku segera mendongakkan kembali wajahku.
“Dari tadi pagi.” Jawabku dengan paksaan senyum di bibirku.
“Apa,dari tadi pagi? Dan sampai saat ini dia belum datang?” Tanya Bisma lagi dengan nada emosi.
    Aku hanya tersenyum,membuatnya yakin bahwa tak ada masalah yang menerpaku saat ini.Bagiku ini adalah hal biasa,mungkin ia lupa bahwa hari ini ia akan kembali pulang.Aku berusaha untuk memakluminya saja.
“Kamu darimana? Jam segini baru pulang?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku dari Jakarta,tadi ada pemotretan di salah satu Agency di Jakarta.Males naik mobil,jadi naik kereta ajah deh.” Jawabnya sambil tersenyum,menampakkan sederet behel yang terpasang di giginya.
“Ciieehh,yang jadi model.” Godaku.Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Bisma,walaupun saat ini aku merasakan gundah yang luar biasa.
“Apa sih? Udah deh,jadi malu aku.” Kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Pulang yuk! Udah malem nih.Kamu bawa motor kan?” Tanya Bisma.
“Iyah.’ Jawabku tersenyum.
“Sini aku boncengin.Kamu aku antar pulang yah!”
“Trus kamu pulangnya?”
“Aku gampang! Lagian kamu kan cewek,gak baik pulang sendirian malem-malem gini.” Kata Bisma mengacak pelan rambutku.
“Oke.” Jawabku kemudian.Akupun segera menyerahkan kunci motorku kepada Bisma dan kamipun segera pergi dari stasiun ini.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun.Sudah 2 minggu ini aku bolak-balik stasiun untuk menjemput Rafael.Namun apa hasilnya? NIHIL.
Selama 2 minggu ini Rafael tak nampak di stasiun ini.Padahal pada janjinya dulu,harusnya ia sudah pulang 2 minggu yang lalu.Aku melamun dengan sendirinya.Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda bahwa ada telepon masuk.Akupun segera sadar dari lamunanku itu kemudian segera mengangkat telepon.
“Halo..” Kataku ramah.
“Haloo Alika.Gimana kabar kamu?” Tanya suara itu yang sangat aku kenal.
“Rafael,aku kira kamu udah lupa sama aku.Kabarku baik kok Raf,kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanyaku gembira.Bahkan saking gembiranya akupun terperanjat dari dudukku dan melompat-lompat bagaikan anak kecil yang telah mendapatkan apa yang diinginkan.Sampai-sampai aku lupa,bahwa sekarang aku sedang berada di tempat umum.
    Setelah beberapa menit mengobrol lewat telepon,akhirnya teleponpun disudahi.Aku kembali pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.Bahagia karena sabtu besok Rafael positif akan pulang ke Bandung.
***
    Aku melihat sosok Bisma berjalan melewati koridor kampus.Ku panggil ia dengan suara lantang.
“Bismaaaa...” Teriakku.Bismapun menghentikan jalannya dan berbalik badan,kemudian akupun berlari untuk menghampirinya.
“Alika,ada apa? Tumben manggil aku?” Tanya Bisma.
“Gak papa.Lama gak ketemu yah? Lagi Sibuk yah kamuu?” Kataku mulai menggodanya lagi.
“Yaaa,seperti yang kamu tahu Al.” Katanya tersenyum.
    Kamipun melanjutkan jalan menuju ke kantin.Sekedar untuk sharing dan akupun mulai menceritakan pada Bisma tentang semua hal yang aku alami kemarin.
“Oh iyah Al,besok sabtu Rafael pulang kan?” Tanya Bisma disela-sela curhatku.
“Iya Bis,besok kita jemput Rafael yuk Bis di stasiun!” Ajakku.
“Sorry nih Al,bukannya aku gak mau nih,tapi sabtu besok kebetulan aku ada pemotretan lagi nih di Jakarta.Gimana dong?” Kata Bisma sambil mengernyitkan dahinya.
“Yaudah kalo gitu.Aku berangkat sendiri ajah deh.” Kataku menebarkan senyum bahagiaku.
“Kamu gak papa kan sendiri?” Tanya Bisma.
“Gak papa kok Bis.”
***
    Hari ini aku sudah berada di stasiun.Aku hanya berangkat sendiri,karena Bisma tidak bisa ikut denganku untuk  menjemput Rafael.Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.
“Masih jam 09.00 WIB.” Kataku lirih.Tiba-tiba kereta api dari arah Surabaya datang.Aku segera beranjak dan mulai celingukan mencari Rafael.
“Rafael lewat mana yaa?” Batinku sambil masih celingukan.
    Tiba-tiba aku melihat Rafael turun dari kereta tersebut sambil menggandeng seorang perempuan.Siapakah perempuan itu? Adiknyakah? Tapi kurasa bukan.Adiknya berada disini,dan kulihat wajahnyapun juga sangat asing bagiku.Dengan beribu pertanyaan dalam batinku,akupun mulai menghampiri Rafael.
“Haii Raf.” Sapaku.Aku melihat gelagat Rafael yang terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disini.
“Eh Alika.Kamu ngapain disini?” Tanya Rafael dengan tampang yang gugup.
“Aku disini? Ya mau jemput kamu lah Raf!” Kataku sambil menepuk pelan bahu Rafael.
“Oh iyah Raf,itu siapa? Saudara kamu yaa?” Tanyaku dengan senyum yang berbinar.Belum sempat Rafael menjawab,akupun mengenalkan diriku pada perempuan itu.
“Hai aku Alika,pacarnya Rafael.Kamu siapa ya?” Kataku sambil mengulurkan tangan.Pandangannya sungguh menakutkan.Ia melirik ke arah Rafael,dan kulihat Rafael juga takut dengan pandangannya.
“Saya Marsha,tunangannya Rafael.” Ucapnya dengan nada sedikit memojokkan.
    Aku terdiam sejenak mendengar perkataan perempuan itu.Tubuhku kaku seperti terkena aliran listrik ribuan watt.Hatiku seperti tersambar petir yang menggelegar.Air mataku serasa sudah di ujung pelupuk mata.Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.Apakah ini adalah sebuah kejutan yang telah dirangkai Rafael sebelumnya,atau ini adalah fakta.
    Ku pandang Rafael dengan penuh rasa berharap.Berharap bahwa semua ini hanyalah sandiwara belaka.Namun Rafael hanya menggelengkan kepalanya.Ia lalu mulai mendekati perempuan yang bernama Marsha itu,kemudian aku melihat ia berbisik kepada Marsha.Setelah itu,kulihat Marsha mulai berjalan keluar stasiun mendahului Rafael dan kemudian iapun mulai mendekatiku.
“Besok akan aku jelaskan.Aku tunggu kamu disini tepat jam 09.00 WIB.I love you Alika.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku lalu pergi meninggalkanku yang terbujur kaku di bibir pintu kereta api.
    Pengunjung stasiun berlalu lalang melewatiku.Aku kembali mundur dan duduk terkulai lemas di kursi tunggu stasiun.Aku menangis,tak menyangka bahwa Rafael akan setega ini.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati dan memberiku sebuah saputangan.
“Ini buatmu! Jangan nangis lagi yah! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang Rafael!” Katanya yang lalu duduk di sampingku.Aku segera mengambil saputangan itu dan segera melihat siapa yang memberiku saputangan ini.
“Bisma..” Kataku terkejut.
“Makasih saputangannya.Tapi bukannya kamu ada pemotretan di Jakarta ya?” Tanyaku sambil melap air mataku.
“Tadinya sih ada,tapi jadwalnya di undurin jadi minggu depan.Aku fikir,daripada aku dirumah sendirian,mendingan aku susulin kamu.Eh tapi ternyata,kamu disini bukannya seneng malah nangis.” Jelasnya sambil mengernyitkan dahinya.Aku diam sejenak,lalu aku mulai angkat bicara.
“Bis,Rafael...” Kata-kataku terpotong.
“Rafael punya gandengan baru kan?” Ucap Bisma.Aku menganggukan kepalaku.
“Tadi aku ketemu dia sama cewek lain didepan.Aku kira cewek itu kamu,ternyata setelah aku deketin itu bukan kamu.Yaudah,sabar ajah! Dia begitu pasti ada alasannya kok.” Ucap Bisma lagi.
“Udah ah,pulang yuk! Biar kamu bisa lanjutin nangismu itu dirumah.Kan gak enak kalo nangis disini.Dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.Kan gak lucu dong?” Kata Bisma yang mulai mencoba untuk menghiburku dengan senyum khasnya.Akupun menurut,dan kamipun segera beranjak pulang.
***
    Hari ini aku kembali lagi ke stasiun untuk menemui Rafael.Ia bilang,ia akan datang menemuiku tepat pukul 09.00 WIB.Ku lirik jam tanganku.
“5 menit lagi.” Kataku tak sabar.
    Belum tepat pukul 09.00 WIB,Rafael sudah menampakkan dirinya.Ku lihat ia kebingungan mencari keberadaanku.Akupun melambaikan tanganku dan ia pun berlari untuk segera mendekatiku.
“Hai Alikaa.” Sapanya.
“Hai Raf.” Balasku.
“Maaf atas perlakuanku kemarin.Aku rindu padamu Al,sangat rindu.” Katanya yang langsung memelukku.
    Pelukan ini,pelukan yang dulu ku rasa hangat dan nyaman,sekarang terasa hambar.Ku rasa pula saat ini adalah pelukan terakhirku yang tak akan pernah ku rasakan lagi bersama Rafael kelak.Aku tak mampu lagi untuk membalas pelukannya.Air mataku serasa telah di ujung pelupuk mata.Ku lepaskan pelukan itu sambil menyeka air mataku.
“Kamu kesini bukannya mau jelasin sesuatu yah? Ayo dong jelasin ke aku,jangan bikin aku penasaran gini.” Kataku lembut mencoba kembali bersabar.Kamipun duduk di kursi tunggu stasiun.
***
“Sebenarnya aku juga gak cinta sama Marsha,tapi mau gimana lagi? Aku hutang budi sama Papanya yang udah bikin aku sesukses ini.” Jelasnya.
“Lalu bagaimana dengan aku Raf? Dengan hubungan kita yang udah lebih dari 5 tahun ini?” Tanyaku yang mulai serius.
“Lebih baik kamu lupakan aku! Aku ini bukan yang terbaik untukmu.Aku tak ingin membuatmu sakit hati terus-menerus.” Jawabnya dengan suara yang mulai parau.
“Maksudmu,hubungan kita cukup sampai disini Raf?”
    Rafael tak mampu menjawab.Ia hanya sanggup menganggukkan kepaalanya,menandakan bahwa keputusannya untuk berpisah denganku sudah bulat.Akupun mulai beranjak dari dudukku.
“Oke,kalau itu maumu aku yang akan pergi dari kehidupanmu! Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.Semoga kamu bahagia dengan Marsha-mu itu Raf!” Kataku yang mulai beranjak emosi.Aku dengan sigap melepaskan kemudian melemparkan sebuah cincin pemberian Rafael dulu yang selalu ada di jari manisku.
    Aku berlari meninggalkan ia yang meratapi keputusannya.Dari jauh ku lihat ia menangis,menyesali semuanya.Aku tahu ia pasti juga sakit hati dan merasakan rapuh di jiwanya.Tapi apakah ia tahu bahwa aku lebih sakit hati dan rapuh di banding ia? Namun aku selalu mencoba untuk menepis semua perasaan itu.Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang tegar,kuat dan mampu menahan segala rasa sakit yang aku rasakan.
    Aku terus berlari.Pergi menjauh dari stasiun ini.Stasiun yang menyisakan sebuah memory tentang kesetiaanku yang hanya berujung luka.Stasiun yang telah menyaksikan perjalanan cintaku selama 2 minggu terakhir ini.Stasiun yang telah menjadi saksi kepedihan cintaku berpisah dengan orang yang selama ini aku tunggu dan aku cinta.
THE END

Senin, 23 September 2013

Designer, Photographer, atau Penulis??

Di sini saya mau nulis tentang kegalauan saya. Kegalauan untuk memilih sebuah profesi dimasa yang akan datang. Kegalauan untuk memilih jalan yang memang benar-benar menjadi hidup saya.
Heuffhh, saya bingung kalo udah lulus sekolah nanti mau jadi apa??? Mikir keras banget buat nentuin ini. Designer, photographer, atau penulis?? Saya ini siswi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta yang sekarang duduk di kelas XI. Saya sih milih jurusan Desain Komunikasi Visual (DKV). Bahkan lulusan DKV dari sekolah saya itu adalah orang-orang yang hebat. Tapi kenapa yaa, waktu saya belajar desain saya ngerasa ini bukan dunia saya? Saya sih nikmatin banget hari-hari saya sebagai desainer. Tapi gak tahu kenapa selama satu tahun lebih saya sekolah di SMSR saya ngerasa desain saya gak sebagus kayak desain temen-temen saya. Agak putus asa dikit sih.
Naaahh, di kelas XI ini saya dapet pelajaran 'Fotografi'. Saya seneng banget nih sama pelajaran ini. Apalagi kalo udah pegang kamera. Beeehhh,, rasanya 'SURGA' bangeett bisa motret. Saya sempet kepikiran besok kalo udah lulus pengen banget jadi photographer. Kerja tapi sambil jalan-jalan. Asik kan??
Tapi kendala lagi nih. Buat jadi photographer kan harus punya modal kamera nih? Nah masalahnya, buat bayar sekolah ajah saya harus nunggu beasiswa saya cair kok. Boro-boro banget kan beli kamera?? Laptop buat modal designer ajah saya boleh minjem. Pfffttt...
Yang terakhir, yang saya lagi cinta-cintanya nih. Saya lagi hobi banget nulis. Seneng banget memfiksikan apa yang ada dalam kehidupan saya. Yaa sejenis bikin cerpen gitu deehh.. Gak tahu kenapa, saya malah lebih seneng nyari referensi menulis daripada referensi design atau photo yang bagus. Hapt, bikin galau kan??
Apalagi satu setengah semester lagi saya udah mulai PI (Praktek Industri). Terus abis PI saya udah mulai fokus ke ujian nasional, terus udah lulus. Ahhhh, bikin tambah galau kan? Yaa masih lama sih yaa, tapi kan waktu cepet berlalu. Mikirin masa depan itu emang bikin galau yaa? Haffffhhh... Jadi saya harus pilih yang mana nih? Designer, Photographer, atau Penulis???

Minggu, 22 September 2013

Perlu Kamu Tahu?

Aku pernah seneng punya kakak kayak kamu. Asal kamu tahu, kamu kakak terbaik dan terhebat yang pernah aku punya. Kamu baik sama aku, kamu anggap aku udah kayak adekmu sendiri. Kamu selalu ada waktu aku butuh, waktu aku sakit, ngehibur aku, nasehatin aku kayak kakakku sendiri. Padahal kita gak sedarah.
Perlu kamu tahu kalo aku bangga punya kakak kayak kamu. Kamu tetep kuat menghadapi masalah berat. Kamu tetep tegar walaupun kamu merasa dipaksa menjadi dewasa disaat segala masalah dateng nyerang kamu.
Perlu kamu tahu, rasa sayang aku cuman sekedar rasa sayang adek ke kakak, gak lebih. Walaupun banyak orang yang salah paham tentang perasaan aku ke kamu, tentang hubungan kita. Mereka itu cuman orang-orang yang sok tahu sama perasaan aku, sama hubungan kita. Andai kamu tahu kalo aku sedih waktu kamu ngejauh dari aku. Aku ngerasa kehilangan sosok kakak dalam diri kamu.
Aku sadar, mungkin aku mulai ketergantungan dengan adanya dirimu sebagai kakakku. Tapi aku juga sadar kalo kita gak mungkin selamanya hidup kayak gini. Kamu punya kehidupanmu sendiri, dan akupun juga. Mulai sekarang, saat ini, dan detik ini aku mencoba membebaskan kamu dari diriku. Dari segalanya yang dulu pernah melekat pada diriku dan dirimu. Dengan kenyataan sebenarnya bahwa aku dan kamu bukan kakak adek kandung.
Dulu aku pernah mikir, seandainya kamu itu benar-benar kakak kandung aku, betapa beruntungnya aku punya kakak kayak kamu. Punya sosok seorang dewasa yang bisa menuntun aku menjadi dewasa pula. Ahhh, semuanya itu hanya seandainya dan hanya khayalan belaka. Terimakasih kamu sempat berperan sebagai kakakku dalam dunia yang penuh sandiwara ini. Perlu kamu tahu kalo aku tetep anggep kamu kakak aku walaupun kamu udah gak anggep aku adekmu atau temanmu atau sahabatmu lagi :)

Minggu, 15 September 2013

Haaa??


Aku duduk, terpojok di sudut kamar. Aku menangis, menangisi apa yang telah terjadi pada Kak Reihan. Tissue yang basah mulai berceceran di dalam kamarku. Kak Reihan, dia adalah kakak kelasku yang kebetulan juga seseorang yang sedang dekat denganku akhir-akhir ini. Sikapnya berubah semenjak banyak masalah yang menimpanya akhir-akhir ini. Mulai dari masalah organisasi, percintaannya yang bertepuk sebelah tangan, dan keluarganya yang sedang berada di ambang kehancuran.
“Kak Reihaaann.. Kamu kenapa sih Kak?” batinku sambil masih menangis. Entah mengapa rasanya berat ketika aku harus mendekati dan perlahan menyentuh hatinya untuk segera tenang. Aku takut. Takut kalau-kalau ia malah akan semakin marah. Tidak biasanya ia seperti ini. Aku tidak bisa berbicara apa-apa padanya. Aku hanya bisa memberikan waktu padanya supaya tenang dan siap bercerita kepadaku.
***
Aku berjalan melewati koridor sekolah, kemudian aku berbelok arah menuju ke kelas yang berada di dalam lorong sekolah. Hari ini ada pertemuan OSIS yang kebetulan aku dan Kak Reihan adalah satu organisasi. Huffttt... Rasanya aku malas bertemu dengannya. Aku tidak ingin melihat raut wajahnya yang dipenuhi rasa emosi itu. Aku mulai duduk dibangkuku yang berada dideretan paling depan. Pandanganku kosong menatap ke depan. Tiba-tiba seseorang datang mengagetkanku.
“Dooorrr..!! Pagi-pagi udah ngelamun aja neng,” ucapnya.
“Hanaaa.. Kamu ngagetin tau gak,” rengekku.
“Ya maaf Ra. Lagian kamu pagi-pagi udah ngelamun aja. Kenapaa??” Tanya Hana.
“Kak Reihan berubah. Aku sedih. Gak biasanya dia begini,” kataku menundukkan kepalaku. Air mataku kembali membendung.
“Udahlah, diemin aja. Mungkin dia lagi banyak masalah. Besok-besok juga dia bakalan balik lagi kayak biasanya,”
“Tapi Naa...” Ucapanku terpotong ketika seorang guru datang dan memulai pelajaran pagi ini.
Aku mengalihkan pandanganku menuju ke luar jendela. Semilir angin pagi membelai lembut rambutku yang kini mulai menari-nari. Air mata ini tiba-tiba menetes. Aku segera menyekanya supaya teman dan guruku tidak menyadari bahwa aku sedang menangis. Hari ini teman-temanku tidak berani mendekatiku karena mereka bisa melihat, bahwa moodku sedang berantakan. Selama pelajaran berlangsung aku tidak bisa konsentrasi sama sekali. Yang aku pikirkan hanya Kak Reihan, Kak Reihan, dan Kak Reihan.
Kenapa dia jadi seperti ini sih? Semua ini membuatku menjadi serba salah. Aku bingung. Kenapa tiba-tiba moodku juga jadi ikut berubah ketika Kak Reihan juga berubah? Entahlah, aku tidak mengerti dengan semua permainan hati ini.
***
Siang ini rapat OSIS dimulai. Kak Reihan selaku ketua panitia acara HUT SMA NUSA ke-50 memimpin jalannya rapat koordinasi ini. Sikapnya seenaknya, nada bicaranya menyindir, dan raut wajahnya masih tetap sama. Raut wajah emosi. Udara siang ini yang terasa panas, menjadi semakin panas.
“Ada yang ingin mengeluh tentang kepemimpinan saya?” Tanya Kak Reihan yang menatap wajah teman-teman dengan sinisnya. Aku hanya bisa menatapnya sayu.
“Ada yang ingin mengeluh tentang kepemimpinan saya?” Tanya Kak Reihan lagi dengan nada yang hampir tinggi. Aku mulai menatapnya dengan penuh rasa emosi. Tweet demi tweet aku tuliskan ditwitter untuk mengumpatnya.
“Kenapa pada diem semua? Ayoo jawab pertanyaan saya!” Teriak Kak Reihan lagi. Sunyi, tak ada yang berani menjawabnya. Tak lama kemudian Kak Farid mulai angkat bicara.
“Han, kamu itu kalo lagi ada masalah jangan di bawa ke forum dong! Kasihan temen-temen yang lain kalau kayak gini,” ucap Kak Farid.
“Kenapa? Kamu gak suka?” Tanya Kak Reihan dengan ngototnya.
“Bukannya gitu Han. Kasihan sama temen-temen yang lain yang udah siap sama acaranya. Ini kita H- berapa coba? Kamu bayangin kalau mental mereka kebanting kayak gini cuman gara-gara sifatmu, gara-gara kamu bawa masalahmu ke dalam forum ini.”
Aku mengalihkan pandanganku menuju ke belakang. Aku bersembunyi di balik punggung temanku, Laras. Air mata ini kembali menetes ketika semua teman mulai terdiam dan terpancing emosi.
“Laras, aku pengen nangis...” Ucapku sambil memeluk Laras yang ada di sampingku.
“Udah Ra, tenang aja. Semuanya bakalan balik kayak dulu lagi kok. Mungkin Kak Reihan cuman lagi tertekan aja,” ucap Laras sambil membelai rambutku.
Aku kembali ke posisi awal dan mulai menghapus air mataku. Ku rasa Kak Reihan melihat aku menangis sedari tadi. Aku memandang wajahnya yang terlihat merasa bersalah.
“Okee, aku minta maaf kalau sedari tadi aku memimpin rapat dengan seenaknya. Tapi itu semua karena aku merasa tertekan dengan semua masalah yang menimpaku. Aku memang bukan pemimpin yang baik, tapi aku akan berusaha menjadi seorang pemimpin yang baik!” Ucapnya yang ku rasa mungkin sudah agak tenang. Aku menatapnya tersenyum, dan iapun juga membalas senyumku.
***
Bel istirahat mulai berbunyi. Semua murid berhamburan menuju ke segala arah, dan segala sudut sekolah. Aku bersama ke-2 sahabatku, Hana dan Diva, segera mematikan komputer yang ada di laboratorium komputer desain. Ketika aku melangkahkan kakiku keluar dari lab, dan berbelok ke arah kantin, ku lihat Kak Reihan bersandar pada tembok kantin sambil memainkan handphone-nya. Entah mengapa rasa malas bertemu dengan dia muncul lagi.
“Aku gak jadi ke kantin yaa,” kataku pada Hana dan Diva.
“Lhoo, kenapa Ra?” Tanya Hana.
“Tiba-tiba aja aku mendadak kenyang. Males ke kantin,” jawabku sekenanya.
“Kalian berdua aja ya yang ke kantin!” Kataku, lalu memutar arah menuju kelasku dan mulai berjalan cepat. Namun ku rasa, langkah kakiku ini masih terlalu lambat di banding langkah kaki Kak Reihan. Dengan cepat ia memotong jalanku, dan kini ia tepat berada di depanku. Rasa muak kembali menyelimuti hatiku. Muak dengan sifatnya yang tak pernah konsisten padaku.
“Sepertinya ada yang harus kita selesaikan!” Katanya tiba-tiba. Aku bingung. Apa yang harus di selesaikan? Bukannya tidak ada masalah antara aku dan Kak Reihan?
“Haaahhh..??” Ucapku sambil mengerutkan dahiku. Ia kemudian menunjukkan layar handphone-nya yang ternyata ia sedang membuka timeline twitterku.
“Ih Kak Reihan stalking ih,” ucapku memanyunkan bibir.
“Aku tunggu penjelasan kamu. Nanti ketemu di ruang OSIS jam 3 yaa!” Teriaknya lalu pergi meninggalkanku.
“Arrrggghhh... Menyebalkan, ini benar-benar menyebalkan!” Umpatku dalam hati.
***
Aku dengan cepat melangkahkan kakiku menuju parkiran sekolah. Namun nampaknya aku mulai kecolongan lagi. Ku lihat Kak Reihan baru saja keluar dari kamar mandi yang ada didekat parkiran.
“Arrgghh.. Sial,” batinku sambil menggigiti kuku tanganku. Kak Reihan dengan segera mendekati aku.
“Mau kemana? Kan kita ada janji. Kok mau pulang sih?” Dengus Kak Reihan.
“Males, capek,” kataku sekenanya.
“Kok gitu sih?”
Tiba-tiba Kak Reihan menggandeng tanganku dan membawaku menuju ke ruang OSIS. Di dalam ruang OSIS Kak Reihan hanya menatapku tajam. 5 menit, 10 menit, 20 menit, hening. Tak ada yang memulai pembicaraan. Kak Reihan mulai sibuk dengan handphone-nya. Aku mulai kesal, jengkel. Untuk apa aku di bawa kesini kalau hanya untuk melihatnya bermain handphone? Arrgghh.. Menyebalkan!
“Mau pulang,” kataku jengkel. Aku beranjak dari dudukku. Namun tangan Kak Reihan kembali menarikku.
“Jangan pulang dulu. Aku butuh kamu, butuh penjelasanmu,” ucapnya menatapku penuh harap. Aku kembali duduk di sampingnya.
“Kita masih sahabatan kan?” Tanya Kak Reihan.
“Ehem..”
“Masih mau dengerin curhat aku?”
“Ehem..” Kak Reihan menghela nafas lalu mulai berbicara padaku.
“Ayah Bundaku berantem lagi, aku pusing Ra, pusing,” katanya dengan suara yang mulai parau. Aku mulai merasa iba, tersentuh dengan segala ceritanya. Ia mulai bercerita panjang lebar kepadaku.
Rasa ini kembali datang. Rasa yang tak dapat aku definisikan menjadi kata-kata.
“Oh iyaa, kamu kenapa nangisin aku beberapa hari yang lalu?” Tanya Kak Reihan tiba-tiba.
“Heh??” Ucapku terkejut. Aku salah tingkah lagi dibuatnya. Harus aku jawab apa pertanyaan ini?
“Hayoo kenapaa?? Gara-gara kamu sayang aku yaa?? Makanya kamu gak mau lihat aku berubah kayak kemarin. Ibarat kata, kamu takut aku kenapa-napa,” ucapnya cengengesan, menggodaku.
“Dihh.. Apaan deh Kak? Udah ah, mau pulang. Udah soree,” ucapku mengalihkan pembicaraan.
“Udah yaa.. Bye Kakak jeleeekkk,” ucapku melambaikan tangan lalu berlari pergi menuju ke parkiran.
“Diraaaaa... Awas yaa kamu,” teriaknya dari jauh.
***

Hari ini Kak Reihan berulang tahun. Aku berjalan menuju ke ruang OSIS, menyusul teman-teman yang lain yang sudah berada di ruang OSIS terlebih dahulu. Sebuah kotak berwarna biru dongker ku bawa dengan senangnya.
“Mudah-mudahan Kak Reihan suka,” batinku. Aku terus berjalan, hingga akhirnya aku sampai di ujung lorong. Aku berbelok ke arah utara yang dimana ruang OSIS berada.
“Kak Reihan,” ucapku lirih.
Kotak berwarna biru dongker yang sedari tadi aku bawa, tanpa sadar terjatuh dari tanganku. Air mata ini mulai membendung. Aku berlari, pergi menjauh dari ruang OSIS itu. Arrgghh... Rasanya aku benar-benar hancur. Dari jauh aku mendengar Kak Reihan memanggil namaku dengan lantangnya. Tapi aku terus berlari tanpa menghiraukan panggilan itu.
***
Sudah beberapa hari ini aku menghindar dari Kak Reihan. Rasanya hancur ketika aku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu itu. Hari ini rapat pengukuhan panitia HUT diadakan. Rasa malas untuk menghadiri rapat tersebut mulai menyelimuti hatiku. Dengan sekuat tenaga, aku mebcoba untuk mengesampingkan urusan pribadiku itu.
Setelah rapat usai, dengan cepat aku keluar dari ruang OSIS. Tapi seperti biasa, Kak Reihan menarik tanganku hingga memaksaku untuk kembali masuk ke ruang OSIS dan berhadapan lagi dengannya. Ruang OSIS mulai sepi. Hanya ada aku, Kak Reihan dan seorang teman lagi yang sepertinya sebentar lagi ia akan pulang.
“Kamu kenapa sih Ra akhir-akhir ini menghindar dari aku?” Tanya Kak Reihan dengan tatap mata yang serius.
“Gak papa,” jawabku singkat tanpa melihat wajahnya.
“Aku disini Ra! Lihat mukaku kek!” Perintahnya.
“Kak, aku capek. Mau pulang,” ucapku yang kemudian pergi meninggalkan Kak Reihan sendiri.
***
Hari ini HUT SMA NUSA yang ke-50. Sederet acara yang sudah diprogramkan panitia HUT mulai dilaksanakan. Aku, selaku koordinator sie acara mulai sibuk kesana kemari mengonfirmasi acara selanjutnya kepada ketua panitia. Hal itu memaksaku untuk berhadapan langsung dengan Kak Reihan.
“Kak, abis pawai nanti dilanjut acara pensi yah!” ucapku pada Kak Reihan. Kak Reihan hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Disaat aku ingin pergi untuk pengecekan barang-barang pensi, tiba-tiba Kak Reihan menarik lenganku lembut.
“Ada apa Kak?” Tanyaku.
“Kamu kenapa sih jadi berubah gini? Aku gak betah lama-lama kayak gini,” ucapnya.
“Kakak yang bikin aku kayak gini,”
“Maksud kamu?” Tanya Kak Reihan. Nampaknya ia masih bingung dengan omonganku tadi. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. Berusaha menahan air mataku agar tidak terjatuh. Aku menghela nafas panjang.
“Maaf Kak, kerjaanku masih banyak. Mendingan kita ngurusin tugas masing-masing dulu!” Ucapku kemudian, lalu pergi.
***
Acara HUT hari ini telah usai. Rasa lelah mulai terasa. Namun dengan lancarnya acara HUT tadi, membuat aku dan teman-teman yang lain merasa puas. Rasanya semua kerja keras kami terbayarkan sudah. Semua tim panitia HUT berkumpul di ruang OSIS. Sebuah selang air panjang telah dipersiapkan untuk merayakan kesuksesan kami menjalankan acara. Dengan perlahan, Kak Reihan mulai mendekatiku lagi.
“Dira, maksud kamu ngomong kayak gitu tadi apa?” Tanya Kak Reihan.
“Omongan yang mana Kak?” Tanyaku bingung.
“Yang kamu bilang kalo aku yang bikin kamu berubah kayak gini,” jelas Kak Reihan. Aku menatap wajahnya, matanya. Dengan cepat bendungan air mata ini tumpah dan mulai membasahi pipiku.
“Dira, kok nangis sih?” Tanya Kak Reihan heran. Ia segera membelai lembut pipiku, menghapus air mata yang terjatuh di pipiku.
“Kakak gak peka,” ucapku dengan suara yang parau.
“Gak peka gimana Ra?”
Rasa emosiku mulai meluap, bangkit membangunkan sistem otakku untuk mengeluarkan amarah yang selama ini aku pendam. Rasa sakit dan rasa pedih akibat ketidak pekanya dia terhadap hatiku. Aku mulai menangis hebat, seperti orang yang terkena gangguan jiwa.
“Kakak gak pernah peka sama perasaan aku ke kakak. Kakak pikir selama ini aku ngehindar dari kakak kenapa? Karena aku cemburu kak, CEMBURU..” Ucapku mempertegas kata cemburu.
“..Kakak pikir waktu kakak ulang tahun terus tiba-tiba aku pergi itu kenapa kak? Yaa karena aku lihat kakak ngerangkul cewek lain. Kakak itu gak peka, gak pernah mencoba sedikitpun untuk ngertiin perasaan aku!”
“Siapa yang gak peka sekarang haa?? Aku apa kamu? Selama ini kita diem-dieman gini, terus aku bilang gak betah kita kayak gini terus itu kenapa? Karena aku suka sama kamu Ra, aku sayang sama kamu,” ucapnya yang tak kalah emosinya dengan aku.
Aku terkejut ketika Kak Reihan bilang, ‘aku suka sama kamu, aku sayang sama kamu.” Apa-apaan dia ini? Udah punya cewek lain, berani-beraninya dia mengucapkan itu padaku. Dia pikir aku ini cewek apaan? Berdebatan hati diantara kami masih terus berlanjut.
“Kakak apa-apaan sih? Sadar kak, kakak ini udah punya cewek. Inget cewekmu kak, ingeett!!”
“Cewek yang mana sih Ra? Yang waktu itu dateng ke ulang tahunku? Dia itu adek sepupuku Ra, bukan cewekku,”
“Haa??” Aku terkejut. Tiba-tiba saja air mata ini berhenti mengalir. Aku dan Kak Reihan saling bertatapan.
“Lihat mata aku Ra kalo kamu gak percaya. Di situ ada cinta buat kamu, kamu mau gak jadi pacar aku?” Tanya Kak Reihan dengan tatapan tajamnya.
“Iiihh, kakak gampang banget sih ngomongnya. Masih sesenggukan nih, tanggung jawab! Kakak jahat sih,” ucapku malu-malu. Aku menganggukan kepalaku tanda bahwa aku mau jadi pacarnya.
“Hahahaa.. Yaa maaf sayang, yang penting sekarang aku jadi punyamu kan?”
“Kakaaakkk...” Rengekku sambil memukul pelan pundaknya. Aku masih malu dengan semua kejadian ini. Kalau dipikir-pikir, aku childish juga ya? Hahahaa.. Tapi aku bahagia, ternyata selama ini perasaanku ke Kak Reihan gak sia-sia.
“Tapi ngomong-ngomong, kado ulang tahun dari kamu bagus juga. Makasih yaa, aku suka banget,” ucap Kak Reihan menarik hidungku.
“Hehee.. Iyaa, sama-sama Kak,”
Dengan tiba-tiba Laras menyiram aku dan Kak Reihan dengan air selang. Ternyata sedari tadi teman-teman juga tegang melihat perdebatan diantara aku dan Kak Reihan yang berujung ‘jadian’.
“Ciieeee jadiiaaann,” teriak teman-temanku. Aku dan Kak Reihan hanya bisa malu-malu meong.
THE END

Sabtu, 24 Agustus 2013

Untuk yang Sedang Merasa Lelah

Jika mendekatkan diri kepada Allah adalah satu-satunya jalan menyelesaikan segala masalah & menghilangkan segala rasa lelah yang menyelimuti hati, maka dekatkanlah dirimu, dekatkanlah hatimu kepada-Nya. Jangan hanya meratapi masa lalumu yang hanya membuang-buang waktumu saja. Ingat, masa lalu adalah guru terbaik untuk melangkah ke masa depan! :)
Berdoalah, memohonlah, keluhkan segala rasa yang membuat hatimu sakit hanya kepada-Nya, sang maha pencipta kita :) Allah tidak akan memberikan masalah melebihi batas kemampuan hamba-Nya. Allah tahu, seberapa mampu kita akan menghadapi masalah yang menimpa kita.
Karena di setiap kesulitan, pasti ada kemudahan. Karena di setiap kejadian buruk yang menimpa kita, pasti ada hikmahnya. Jangan terus menerus men-JUDGE bahwa Allah itu tidak adil. Bersyukurlah ketika segala sesuatu terjadi pada kita. Maka kita akan merasakan kenikmatan yang tiada tara. Karena bersyukur akan menimbulkan rasa bahagia. Ingatlah, bahwa Allah pasti membantu & menuntun kita untuk menyelesaikan segala masalah yang menimpa kita :D

Kamis, 22 Agustus 2013

Dear Allah {}

Aku mulai merebahkan tubuhku di atas sebuah kasur yg berada di kamarku. Ku pejamkan mataku sejenak sembari menghela nafas mengucap syukur yang tiada hentinya. Ketika itu juga aku merasakan tangan lembut itu perlahan membelai rambutku, menyentuhku. Entah mengapa rasanya aku seperti di landa bahagia ketika tangan-Nya mulai menyentuhku. Memberi kekuatan, serta ketabahan hati untuk aku bisa tetap hidup dalam dunia yang telah Ia ciptakan.
Rasa syukur ini begitu kuat ketika aku mengingat betapa cinta-Nya amat sangat begitu besar kepadaku {}
Aku mulai berjanji, berjanji pada diriku sendiri untuk mulai mencintai-Nya. Cinta itupun begitu dalam ketika aku merasakan rasa sayang & kasih-Nya itu membelai lembut auraku yang hampir mati.

“Ya Allah, biarkan aku untuk tetap mencintaimu. Meninggikanmu di atas segalanya. Jagalah aku dimanapun & kapanpun. Sesungguhnya hanya Engkaulah yang memiliki kekuasaan sepenuhnya atas dunia ini. Amiiinnn Ya Rabbal'alamin,” :)

Selasa, 09 Juli 2013

Apa Adanya Aku

"Ajari aku tuk bisa..Menjadi yang engkau pinta.."
Alunan lagu dari Adrian Maradinata yang ku dengar,membawaku ke dalam lamunanku.Tiba-tiba dari bawah,ku dengar teriakan seseorang memanggilku.
"Milkaa...Di cariin si Rangga ituh..!!" teriak Rafael dari bawah.
"Iyaa kak.Suruh tungguin bentar.!"
Sebelumnya kenalkan aku Milka Tanubrata.Aku anak ke tiga dari tiga bersaudara.Kakak pertamaku bernama Rafael Tanubrata,kakak ke dua ku bernama Bisma Karisma,dan yang mencariku tadi adalah kekasihku,namanya Rangga Moela.Menurutku Rangga itu seorang lelaki yang sempurna.Tapi ada sedikit sikap yang tak aku suka darinya,yaitu menyuruhku untuk selalu berubah demi dia.Aku memang rada tomboy,gak suka sama dandanan yang aneh-aneh,dan mungkin hal itulah yang membuat Rangga selalu protes padaku.
Mungkin dia risih dengan dandananku yang bisa di bilang agak amburadul.Aku juga tak tahu pasti,kenapa dia bisa cinta padaku.Cinta? Atau pura-pura cinta? Entahlah,aku tak mengerti. Aku sesegera mungkin turun kebawah dan menemui Rangga.
"Haii Rangga.." sapaku.
"Eh haii sayang.."
"Udah lama yah nunggu? Maaf yah.."
"Enggak papa kok sayang." Rangga menatapku heran.Dilihatnya penampilanku dari atas sampai bawah.
"Sayang,gak salah yah kamu make baju kayak begini? Masa mau jalan sama cowok seganteng aku makenya beginian." kata Rangga sambil menarik-narik kaosku.
Aku memang hanya memakai kaos oblong,celana jeans,dan sepatu kets.Ini sudah kebiasaanku sehari-hari dan tak bisa semudah itu merubahnya.Ini juga sudah kesekian kalinya Rangga mengkritik penampilanku.Memang tak hanya sekali dua kali,bahkan ratusan kali dia mengkritikku.
"Terus aku musti make baju apa? Baju yang bahannya kurang itu? Udah berapa kali aku bilang,aku gak nyaman Ranggaaa..." keluhku.
"Yaaa se enggaknya kamu pake yang rada cewek dikit kek.!"
Tiba-tiba kak Bisma datang menghampiriku dan Rangga yang sedang bertengkar.Akupun menghela nafas lega,karena aku sudah bosan dengan ocehan Rangga itu.
"Eh ada elo bro! Udah lama?" sapa dan tanya Bisma.
"Lumayan lah." jawab Rangga.
"Mau jalan sama Milka yah?"
"Iyalah,masa mau jalan sama lo.Aneh-aneh aja lo Bis." kata Rangga sambil tersenyum.
"Ahahahahahh...Kali ajah lo mau neraktir gue bro!" kata Bisma cengengesan.
"Dihh males gileee.." Kami semua tertawa.
"Oh iyah,tapi kok kalian gak cabut-cabut sih dari tadi.?" tanya Bisma.Kami berdua hanya bisa diam.
"Kok diem? Buruaaann berangkat! Keburu jalanan Bandung macet tau!" saran Bisma.
"Iyaa..Ini mau berangkat.Ayo Ga kita berangkat." kataku sambil menarik lembut tangan Rangga.
"Yaudah bro..Gue pergi dulu yah.Assalamu'alaikum" pamit Rangga.
"Wa'alaikumssalam.Hati-hati yah bro! Jagain adek gue." kata Bisma.
"So pasti bro."
Kami berdua segera pergi.Entah Rangga membawaku kemana.Aku ikut saja dengannya.Di sepanjang jalanpun Rangga mulai ngoceh lagi soal penampilanku.
"Sayang aku mau kamu berubah yah demi aku." kata Rangga.
"Berubah gimana Ga? Aku gak ngerti deh." tanyaku bingung.
"Yah berubah.Ngerubah penampilan kamu layaknya cewek biasa.Gak kayak gini."
"Aku emang dari sana udah kayak gini Ga.Mau di apain lagi? Susah buat ngerubahnya.Kalo kamu gak suka yaudah,mending kita udahan ajah deh.Aku capek kamu tuntut-tuntut terus!" kataku terbawa emosi.
Deg...Jantungku serasa berhenti ketika aku bilang 'kita udahan ajah deh'.Sorry Rangga,bukan maksud aku.Aku bener-bener keceplosan.Semoga Rangga gak bener-bener nanggepin omonganku tadi.Sesaat mobilpun berhenti.Rangga menatapku dalam.
"Milkaaa..Ya jangan gitu juga kali.Yaudah,mulai sekarang aku gak akan bahas lagi deh soal ini.Maafin aku yah sayang." katanya mencium keningku.
Sudah berulang kali Rangga melakukan hal ini dan sudah berulang kali pula Rangga meminta maaf padaku.Tapi syukurlah,Rangga tak menanggapi omonganku tadi.Akupun menganggukan kepala tanda bahwa aku sudah memaafkannya.Mobilpun kembali berjalan.
"Arrrgghh...Aku sebel kalo dia gini terus sama aku.Tapi gimana lagi? Aku udah terlanjur sayang sama dia." batinku.
Kami berdua akhirnya sampai di suatu tempat.Tempat yang sangat bersejarah bagi kami.Karena di tempat ini kami di pertemukan hingga kami bisa bersama seperti ini.Sudah 1 tahun hubungan kami,tapi akhir-akhir ini Rangga berubah.Kenapa? Entahlah,aku tak mengerti.Kami berduapun segera turun dari mobil.
"Ngapain kita kesini?" tanyaku pada Rangga.
"Gak papa.Aku lagi pengen ajah ajak kamu ke sini." kata Rangga tersenyum.
Kami berdua duduk di sebuah kursi panjang di tepi danau.Danau yang tenang,airnya sangat jernih.Danau ini kami beri nama Danau Cinta.Karena berkat danau ini kami bisa saling jatuh cinta.Hatiku menjadi tenang seketika setelah aku melihat danau ini.Kami menikmati hembusan angin yang menerpa tepi danau.Betapa sejuk dan tenangnya berada di sini.Seketika ku lihat Rangga yang sedang menikmati semilirnya angin sore.Ku tarik nafasku dalam,dan ku beranikan diri untuk bertanya pada Rangga.
"Rangga.."
"Iyaa.."
"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu"
"Apa?"
"Aku mau kamu jujur sama aku.! Sebenernya kamu itu cinta gak sih sama aku?" tanyaku serius pada Rangga.
Ranggapun menatapku dalam.Aku tak sanggup melihat kesayupan matanya.Betapa teduh tatapan matanya itu.Tiba-tiba Rangga merangkulku.
"Milka,kamu meragukan cintaku? Jelas-jelas aku itu cinta sama kamu.Kalo aku gak cinta ngapain aku pertahanin hubungan kita satu tahun ini setelah kamu bilang 'udahan ajah'.Percayalah,bahwa cintaku untukmu tak akan pernah lekang oleh waktu."
Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya itu.Ada sedikit perasaan lega,tapi aku masih bingung,kalo dia cinta sama aku kenapa dia selalu menuntutku untuk berubah? Bukankah cinta itu menerima apa adanya,bukan ada apanya.? Entahlah,aku tak mengerti.Karena waktu makin sore,dan mataharipun akan bersiap menyembunyikan sinarnya,kamipun beranjak untuk pulang.Rangga mengantarku sampai depan rumah.
"Makasih yah Ga udah anterin aku pulang." kataku.
"Iyah sayang,sama-sama.Buruan masuk gih,udah malem.Maaf yah gak bisa anterin kamu sampe dalem.I love you sayang." kata Rangga seraya mencium keningku.
"Iya,gak papa kok.Mee too sayang.Hati-hati yah!"
Setelah berpamitan,Ranggapun berlalu.Aku segera masuk ke rumah.Di ruang keluarga,aku bertemu dengan ke dua kakakku yang sedang akur.Wow jarang loh kedua kakakku itu bisa akur.Akupun menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Eh Milka udah pulang.Gimana jalannya sama Rangga? Seruu??" tanya Bisma
"Biasa ajah sih." kataku dengan muka yang super duper BeTee.
"Loh kok biasa sih?" tanya Rafael bingung.
Aku terdiam.Jantungku serasa sesak,hatiku kembali sakit mengingat semua kejadian yang aku alami hampir setiap aku dan Rangga bertemu.Seketika air mataku menetes karena aku tak dapat membendungnya lagi.Ke dua kakakku heran melihatku tiba-tiba menangis.
"Loh,loh kok nangis sih dek?" tanya Rafael bingung.
"Iya,kok nangis sih? Ada masalah apa adek? Cerita dong sama kita?" desak Bisma.
Aku tak bisa berkata apa-apa.Aku terus menangis.Dan ketika kurasa cukup puas aku menangis,aku mulai menarik nafas dan segera bercerita dengan kedua kakakku itu.
“Kak,aku bingung sama perasaan aku.Di sisi lain aku bahagia bisa memiliki Rangga,tapi di sisi lain juga aku sakit karena memiliki Rangga..” kata-kataku terhenti sejenak.Aku mulai menghela nafas kembali.
“Sakit karena setiap hari Rangga selalu menuntutku untuk berubah.Padahal aku emang gini adanya.Aku ya aku,bukan dia dan gak akan pernah bisa jadi dia.” Kataku lagi.Aku melanjutkan tangisku.
"Milka,cinta itu kadang emang egois.Tapi hal itulah yang membuat suatu hubungan bisa menjadi lebih kuat dan mengerti satu sama lain.Kadang cinta itu juga bisa jadi kekuatan untuk kita,tapi kadang bisa juga cinta itu jadi kelemahan buat kita." nasihat Bisma.
"Intinya kamu itu harus bisa bersikap dewasa.Jangan pernah kamu bawa emosi kamu buat nyelesein masalah,karena emosi gak akan pernah bisa nyelesein masalah.Pesen kakak juga,kamu harus bisa pertahanin hubungan kamu.Yakinlah ini semua hanya ujian dari Tuhan.Tuhan gak akan pernah ngasih cobaan pada hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.Kamu harus optimis,suatu saat Rangga pasti bisa sadar!" kata Rafael panjang lebar.
Akhirnya kedua kakakku itu memelukku.Mereka berdua memang benar-benar kakak yang baik.Ini yang aku suka dari mereka.Walaupun mereka seperti anak kecil,sering berantem,tapi mereka selalu bisa membuat hatiku merasa tenang.
"Kakak makasih yah kalian udah bisa nenangin aku.Aku sayang kalian" kataku sambil memeluk mereka.
"Iya sama-sama sayang,ini kan udah tugas kita sebagai kakak kamu.Nah karena udah malem,sekarang kamu masuk kamar istirahat yah!" perintah Rafael.
"Iya kak,aku ke kamar dulu yah!"
Dengan berat,aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar dan akhirnya aku sampai di kamar.Ku rebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk.Ku pejamkan sejenak mataku.Ku rasakan air mataku mengalir kembali di pipiku.Ku ambil fotoku bersama Rangga yang ada di meja samping tempat tidur.
"Rangga.Kenapa kamu berubah? Kamu udah gak sayang lagi yah sama aku? Apa kamu udah capek sama aku?" kataku lirih sambil membelai fotoku bersama Rangga yang ku pegang itu.Aku menangis sembari memeluk fotoku bersama Rangga.Tanpa sadar aku sudah berada di dalam alam bawah sadarku.
***
09.45 a.m

"Milkaa..Kamu gak kuliah apa? Ini udah jam berapa coba?" teriak Bisma dari luar kamar sambil gedor-gedor pintu.Aku segera bangun dan melihat jam bekerku yang ada di meja samping tempat tidur.
"Haahh? Jam 09.45? Aku telaaatt kakaaakkk...Kenapa gak di bangunin dari tadi sih?" teriakku dari dalam kamar sambil membereskan tempat tidur terburu-buru.
"Laahh biasanya kamu juga bangun paling awal adek.Jadi mana kakak tau kalo kamu belom bangun."
"Iyaa..iyaa..Ini bangun." teriakku.
Aku segera masuk kamar mandi dan cepat-cepat mandi.Setelah mandi aku langsung turun menyaut kunci mobil kakakku yang ada di meja makan.
"Kak pinjem mobil,aku gak di jemput sama Rangga." kataku.
"Gak sarapan dulu dek?" tawar Rafael.
"Gak usah kak.Ntar aku sarapan di kantin ajah! Aku udah telat kak.Bye kakak.." kataku lagi sambil mencium pipi kakakku.
Aku segera tancap gas menuju kampus.Aku heran,tumben Rangga kayak gini.Biasanya kan dia yang paling rutin bangunin dan antar jemput aku setiap hari.Tapi kenapa sekarang Rangga kayak gini? Entahlah! Rangga emang bener-bener udah berubah.
Sesampainya aku di kampus,ku parkirkan mobilku dan segera berlari menuju kelasku.Namun ketika aku melewati koridor kampus,aku berpapasan dengan Rangga.Rangga tampak cuek padaku.Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan Rangga.Akupun tak terlalu memperduliknnya.Ku lanjutkan lariku menuju ke kelas dan sampailah aku di kelas musik.Untung saja dosen belum datang.Syukurlah,aku bisa berlega hati.Aku segera melangkahkan kakiku menuju meja yang biasa ku tempati.Keadaan kelas tak seperti biasanya yang ramai dan padat.Ini malah sebaliknya,keadaan kelas sepi,ya ada sih satu ataupun dua orang di kelas.Aku bingung,sungguh bingung.Nafasku masih terengah-engah.Tiba-tiba ketiga sahabatku datang dan mengagetkanku.
"Woey neng,bengong ajah lo!" teriak Dicky.
"Masya allah Dicky..Elo bikin gue kaget deh." kataku manyun.
"Lagian pagi-pagi udah ngelamun.Kesambet tau rasa lo!" kata Dicky lagi.
"Gue capek lagi Dick lari-lari dari parkiran ampe sini.Gue kira kelas udah masuk,gak taunya kelas malah sepi." keluhku.
"Yaiyalah sepi orang anak-anak pada keliaran di luar.Kan dosennya gak berangkat." kata Reza.
"Hah? Sumpeh lo dosen gak berangkat?" tanyaku tak yakin.
"Iyalah,katanya sih dosen lagi ada ujian masuk PNS trus dia ambil cuti jadi kelas di biarin kosong deh." jelas Reza.
"Yaudah dari pada kita bengong,mending kita ke kantin ajah yuk.Laper gue." ajak Ilham.
"Yuk dah,gue juga laper.Gara-gara gue buru-buru gue jadi belom sempet sarapan." kataku.
Akhirnya kami ber empat pun menuju ke kantin.Sampai kantin kami memesan makanan dan minuman,lalu duduk di meja paling pojok dekat fakultas hukum,alias fakultasnya Rangga.Ketika aku sedang asyik-asyiknya minum,tiba-tiba Reza mengagetkanku.
"Milkaa..Milkaa...Coba liat deh,itukan......." ucapan Reza terputus.
Aku segera menoleh ke arah yang di tunjuk Reza.Rangga? Benarkah Rangga? Aku melihat Rangga! Tapi sama siapa dia? Kok sama cewek? Apa Rangga selingkuh di belakangku? Ah tapi gak mungkin dia kan sayang banget sama aku.Tapi kok mereka mesra banget yah? Ya Tuhan.......Beribu pertanyaan muncul di benakku.Hatiku serasa sesak dan perih,Ketiga sahabatku memandangku sayu.
"Milkaa yang sabar yah!" kata Dicky merangkul dan mengelus pundakku.
"Ih elo kenapa deh?Biasa ajah lagi.Dia kan cuma partnernya Rangga doang.Gak usah lebay deh." kataku seraya melepaskan rangkulan Dicky.
"Milkaaa..." seru mereka bertiga sambil memelukku.
Entah mengapa rasanya aku ingin menangis,tapi aku harus bisa kuat di hadapan mereka.Aku gak boleh nangis di depan mereka.Aku juga gak mau mereka tahu apa yang terjadi antara aku dan Rangga.Betapa berat rasanya ketika aku harus menyeka air mataku.
"Ih apadeh,kenapa sih pada peluk-peluk gue? Gue gak papa lagi,liat deh gue gak papa kan?" kataku sambil menunjukkan keadaanku.
"Tapi kenapa lo nangis?" tanya Ilham.
"Hah? Gue nangis? Enggak lagi.Gue cuman kelilipan tau,makanya jadi nangis.Perih nih." kataku masih sambil menyeka air mata.Reza menarikku dan menatapku dalam.
"Milka udah deh,lo gak usah pura-pura kuat gitu.Kita tau sekarang sama perasaan lo.Gue yakin lo pasti sakit kan liat Rangga berduaan sama cewek itu." bentak Reza.
"Reza apaan sih,gue gak papa lagi Za.Lagian tuh cewek juga belom tentu selingkuhan Rangga kan.Udah deh yah,gak usah di bahas lagi.Mending sekarang kita pergi aja deh.Gue udah gak mood makan nih." ajakku.
Kamipun pergi meninggalkan kantin.Di depan kantin,kami melewati Rangga.Rangga hanya terdiam terpaku melihatku lewat di hadapannya.
***
Sudah dua bulan Rangga tak menyapa ataupun menghubungiku.Jika bertemu tersenyum saja tidak.Aku tak tahu,mengapa sampai saat ini aku masih bisa bertahan dengan Rangga.Padahal akhir-akhir ini hubungan kami gak jelas.Ya mungkin karena kekuatan cinta aku bisa bertahan untuknya walau sakit.
Ketika aku merasa jenuh di dalam rumah,akupun keluar rumah untuk menghirup udara segar.Tapi tiba-tiba ketika pintu rumah ku buka,aku melihat ada sebucket bunga di depan pintu.Ku lihat ada seselip kertas di sela-sela bunga.Di kertas itu tertulis 'Temui aku di danau cinta jam empat sore nanti.' Aku langsung tahu siapa yang mengirimiku sebucket bunga dan secarik kertas itu.
***
Aku sudah berada di danau cinta.Ku lihat sebuah mobil Honda Jazz berwarna hitam datang.Ya itu Rangga.Kekasihku yang lama tak ku jumpai.Ranggapun segera turun dari mobil dan segera menghampiriku.
"Haaii sayang.Apa kabarmu? Maafkan aku yang lama tak pernah menghubungi dan menyapamu akhir-akhir ini." katanya seraya memelukku melepas rindu.
"Haii juga sayang.Kabarku baik-baik saja.Gak papa kok,aku bisa ngertiin kamu.Pasti akhir-akhir ini kamu sibuk ngurusin skripsi." kataku tersenyum.Rangga menatapku tersenyum seraya mengacak lembut rambutku.Diapun segera duduk di sampingku.
Duapuluh menit telah berlalu.Tapi tak ada satu patah katapun terucap dariku atau Rangga.Sampai akhirnya kuberanikan diri menanyakan sesuatu hal yang mengganjal di hatiku pada Rangga.
"Rangga,cewek yang sama kamu dua bulan yang lalu itu siapa?" tanyaku
"Yang mana sayang?" kata Rangga balik bertanya.
"Yang waktu itu kita ketemu di kantin" kataku mengingatkan.
"Oh itu sepupu aku sayang.Dia baru pindah dari Belanda,dan kebetulan satu fakultas juga sama aku.Kenapa kamu cemburu yah?" goda Rangga.
"Ihh apaan sih Rangga."
"tapi iyakan?" goda Rangga lagi.
"Iya deh aku ngaku.." kataku menyerah.Rangga tertawa puas.Sudah lama kami tak bercanda seperti ini.Tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku.
"Oh iyah Milka,aku mau minta maaf sama kamu."
"Minta maaf kenapa? Kamu itu gak ada salah sama aku tau!" kataku memegang pipi Rangga.
"Maafkan aku yang sudah terlalu memaksamu untuk berubah selama ini.Aku sadar,kamu adalah kamu dan gak akan pernah bisa jadi orang lain." katanya memegang tanganku yang ada di pipinya.
"Aku benar-benar minta maaf Milkaa.Aku bersalah padamu." lanjutnya.
"Rangga,sejahat apapun kamu padaku aku gak akan pernah benci ataupun marah sama kamu.Pintu maafku selalu terbuka untukmu.Tanpa kamu minta maaf,aku udah maafin kamu duluan." kataku menatapnya dalam.
"Karena cintaku hanya untukmu,karena cintaku untukmu aku bisa memaafkanmu,dan karena cintaku untukmu juga aku bisa bertahan untukmu walaupun kamu udah nyakitin aku beribu kali." lanjutku sambil membelai lembut pipinya.
"Milkaaa..Aku sayang kamu.." katanya sambil memelukku.
"Aku jugaa Rangga.."
"Milka,aku mohon,ajari aku untuk bisa menjadi yang selalu kau cinta..Aku rela melakukan apapun demi kamu sayang.I heart you.." katanya mencium keningku.
Aku tersenyum bahagia.Akhirnya kekasih yang ku sayangi bisa menyadari semuanya.Rangga memelukku erat dan hangat.Akupun menangis bahagia di pelukannya.

THE END