"Ajari aku tuk bisa..Menjadi yang engkau pinta.."
Alunan lagu dari Adrian Maradinata yang ku dengar,membawaku ke dalam lamunanku.Tiba-tiba dari bawah,ku dengar teriakan seseorang memanggilku.
"Milkaa...Di cariin si Rangga ituh..!!" teriak Rafael dari bawah.
"Iyaa kak.Suruh tungguin bentar.!"
Sebelumnya kenalkan aku Milka Tanubrata.Aku anak ke tiga dari tiga bersaudara.Kakak pertamaku bernama Rafael Tanubrata,kakak ke dua ku bernama Bisma Karisma,dan yang mencariku tadi adalah kekasihku,namanya Rangga Moela.Menurutku Rangga itu seorang lelaki yang sempurna.Tapi ada sedikit sikap yang tak aku suka darinya,yaitu menyuruhku untuk selalu berubah demi dia.Aku memang rada tomboy,gak suka sama dandanan yang aneh-aneh,dan mungkin hal itulah yang membuat Rangga selalu protes padaku.
Mungkin dia risih dengan dandananku yang bisa di bilang agak amburadul.Aku juga tak tahu pasti,kenapa dia bisa cinta padaku.Cinta? Atau pura-pura cinta? Entahlah,aku tak mengerti. Aku sesegera mungkin turun kebawah dan menemui Rangga.
"Haii Rangga.." sapaku.
"Eh haii sayang.."
"Udah lama yah nunggu? Maaf yah.."
"Enggak papa kok sayang." Rangga menatapku heran.Dilihatnya penampilanku dari atas sampai bawah.
"Sayang,gak salah yah kamu make baju kayak begini? Masa mau jalan sama cowok seganteng aku makenya beginian." kata Rangga sambil menarik-narik kaosku.
Aku memang hanya memakai kaos oblong,celana jeans,dan sepatu kets.Ini sudah kebiasaanku sehari-hari dan tak bisa semudah itu merubahnya.Ini juga sudah kesekian kalinya Rangga mengkritik penampilanku.Memang tak hanya sekali dua kali,bahkan ratusan kali dia mengkritikku.
"Terus aku musti make baju apa? Baju yang bahannya kurang itu? Udah berapa kali aku bilang,aku gak nyaman Ranggaaa..." keluhku.
"Yaaa se enggaknya kamu pake yang rada cewek dikit kek.!"
Tiba-tiba kak Bisma datang menghampiriku dan Rangga yang sedang bertengkar.Akupun menghela nafas lega,karena aku sudah bosan dengan ocehan Rangga itu.
"Eh ada elo bro! Udah lama?" sapa dan tanya Bisma.
"Lumayan lah." jawab Rangga.
"Mau jalan sama Milka yah?"
"Iyalah,masa mau jalan sama lo.Aneh-aneh aja lo Bis." kata Rangga sambil tersenyum.
"Ahahahahahh...Kali ajah lo mau neraktir gue bro!" kata Bisma cengengesan.
"Dihh males gileee.." Kami semua tertawa.
"Oh iyah,tapi kok kalian gak cabut-cabut sih dari tadi.?" tanya Bisma.Kami berdua hanya bisa diam.
"Kok diem? Buruaaann berangkat! Keburu jalanan Bandung macet tau!" saran Bisma.
"Iyaa..Ini mau berangkat.Ayo Ga kita berangkat." kataku sambil menarik lembut tangan Rangga.
"Yaudah bro..Gue pergi dulu yah.Assalamu'alaikum" pamit Rangga.
"Wa'alaikumssalam.Hati-hati yah bro! Jagain adek gue." kata Bisma.
"So pasti bro."
Kami berdua segera pergi.Entah Rangga membawaku kemana.Aku ikut saja dengannya.Di sepanjang jalanpun Rangga mulai ngoceh lagi soal penampilanku.
"Sayang aku mau kamu berubah yah demi aku." kata Rangga.
"Berubah gimana Ga? Aku gak ngerti deh." tanyaku bingung.
"Yah berubah.Ngerubah penampilan kamu layaknya cewek biasa.Gak kayak gini."
"Aku emang dari sana udah kayak gini Ga.Mau di apain lagi? Susah buat ngerubahnya.Kalo kamu gak suka yaudah,mending kita udahan ajah deh.Aku capek kamu tuntut-tuntut terus!" kataku terbawa emosi.
Deg...Jantungku serasa berhenti ketika aku bilang 'kita udahan ajah deh'.Sorry Rangga,bukan maksud aku.Aku bener-bener keceplosan.Semoga Rangga gak bener-bener nanggepin omonganku tadi.Sesaat mobilpun berhenti.Rangga menatapku dalam.
"Milkaaa..Ya jangan gitu juga kali.Yaudah,mulai sekarang aku gak akan bahas lagi deh soal ini.Maafin aku yah sayang." katanya mencium keningku.
Sudah berulang kali Rangga melakukan hal ini dan sudah berulang kali pula Rangga meminta maaf padaku.Tapi syukurlah,Rangga tak menanggapi omonganku tadi.Akupun menganggukan kepala tanda bahwa aku sudah memaafkannya.Mobilpun kembali berjalan.
"Arrrgghh...Aku sebel kalo dia gini terus sama aku.Tapi gimana lagi? Aku udah terlanjur sayang sama dia." batinku.
Kami berdua akhirnya sampai di suatu tempat.Tempat yang sangat bersejarah bagi kami.Karena di tempat ini kami di pertemukan hingga kami bisa bersama seperti ini.Sudah 1 tahun hubungan kami,tapi akhir-akhir ini Rangga berubah.Kenapa? Entahlah,aku tak mengerti.Kami berduapun segera turun dari mobil.
"Ngapain kita kesini?" tanyaku pada Rangga.
"Gak papa.Aku lagi pengen ajah ajak kamu ke sini." kata Rangga tersenyum.
Kami berdua duduk di sebuah kursi panjang di tepi danau.Danau yang tenang,airnya sangat jernih.Danau ini kami beri nama Danau Cinta.Karena berkat danau ini kami bisa saling jatuh cinta.Hatiku menjadi tenang seketika setelah aku melihat danau ini.Kami menikmati hembusan angin yang menerpa tepi danau.Betapa sejuk dan tenangnya berada di sini.Seketika ku lihat Rangga yang sedang menikmati semilirnya angin sore.Ku tarik nafasku dalam,dan ku beranikan diri untuk bertanya pada Rangga.
"Rangga.."
"Iyaa.."
"Aku pengen ngomong sesuatu sama kamu"
"Apa?"
"Aku mau kamu jujur sama aku.! Sebenernya kamu itu cinta gak sih sama aku?" tanyaku serius pada Rangga.
Ranggapun menatapku dalam.Aku tak sanggup melihat kesayupan matanya.Betapa teduh tatapan matanya itu.Tiba-tiba Rangga merangkulku.
"Milka,kamu meragukan cintaku? Jelas-jelas aku itu cinta sama kamu.Kalo aku gak cinta ngapain aku pertahanin hubungan kita satu tahun ini setelah kamu bilang 'udahan ajah'.Percayalah,bahwa cintaku untukmu tak akan pernah lekang oleh waktu."
Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawabannya itu.Ada sedikit perasaan lega,tapi aku masih bingung,kalo dia cinta sama aku kenapa dia selalu menuntutku untuk berubah? Bukankah cinta itu menerima apa adanya,bukan ada apanya.? Entahlah,aku tak mengerti.Karena waktu makin sore,dan mataharipun akan bersiap menyembunyikan sinarnya,kamipun beranjak untuk pulang.Rangga mengantarku sampai depan rumah.
"Makasih yah Ga udah anterin aku pulang." kataku.
"Iyah sayang,sama-sama.Buruan masuk gih,udah malem.Maaf yah gak bisa anterin kamu sampe dalem.I love you sayang." kata Rangga seraya mencium keningku.
"Iya,gak papa kok.Mee too sayang.Hati-hati yah!"
Setelah berpamitan,Ranggapun berlalu.Aku segera masuk ke rumah.Di ruang keluarga,aku bertemu dengan ke dua kakakku yang sedang akur.Wow jarang loh kedua kakakku itu bisa akur.Akupun menghampiri mereka dan duduk di tengah-tengah mereka.
"Eh Milka udah pulang.Gimana jalannya sama Rangga? Seruu??" tanya Bisma
"Biasa ajah sih." kataku dengan muka yang super duper BeTee.
"Loh kok biasa sih?" tanya Rafael bingung.
Aku terdiam.Jantungku serasa sesak,hatiku kembali sakit mengingat semua kejadian yang aku alami hampir setiap aku dan Rangga bertemu.Seketika air mataku menetes karena aku tak dapat membendungnya lagi.Ke dua kakakku heran melihatku tiba-tiba menangis.
"Loh,loh kok nangis sih dek?" tanya Rafael bingung.
"Iya,kok nangis sih? Ada masalah apa adek? Cerita dong sama kita?" desak Bisma.
Aku tak bisa berkata apa-apa.Aku terus menangis.Dan ketika kurasa cukup puas aku menangis,aku mulai menarik nafas dan segera bercerita dengan kedua kakakku itu.
“Kak,aku bingung sama perasaan aku.Di sisi lain aku bahagia bisa memiliki Rangga,tapi di sisi lain juga aku sakit karena memiliki Rangga..” kata-kataku terhenti sejenak.Aku mulai menghela nafas kembali.
“Sakit karena setiap hari Rangga selalu menuntutku untuk berubah.Padahal aku emang gini adanya.Aku ya aku,bukan dia dan gak akan pernah bisa jadi dia.” Kataku lagi.Aku melanjutkan tangisku.
"Milka,cinta itu kadang emang egois.Tapi hal itulah yang membuat suatu hubungan bisa menjadi lebih kuat dan mengerti satu sama lain.Kadang cinta itu juga bisa jadi kekuatan untuk kita,tapi kadang bisa juga cinta itu jadi kelemahan buat kita." nasihat Bisma.
"Intinya kamu itu harus bisa bersikap dewasa.Jangan pernah kamu bawa emosi kamu buat nyelesein masalah,karena emosi gak akan pernah bisa nyelesein masalah.Pesen kakak juga,kamu harus bisa pertahanin hubungan kamu.Yakinlah ini semua hanya ujian dari Tuhan.Tuhan gak akan pernah ngasih cobaan pada hambanya melebihi batas kemampuan hambanya.Kamu harus optimis,suatu saat Rangga pasti bisa sadar!" kata Rafael panjang lebar.
Akhirnya kedua kakakku itu memelukku.Mereka berdua memang benar-benar kakak yang baik.Ini yang aku suka dari mereka.Walaupun mereka seperti anak kecil,sering berantem,tapi mereka selalu bisa membuat hatiku merasa tenang.
"Kakak makasih yah kalian udah bisa nenangin aku.Aku sayang kalian" kataku sambil memeluk mereka.
"Iya sama-sama sayang,ini kan udah tugas kita sebagai kakak kamu.Nah karena udah malem,sekarang kamu masuk kamar istirahat yah!" perintah Rafael.
"Iya kak,aku ke kamar dulu yah!"
Dengan berat,aku melangkahkan kakiku menuju ke kamar dan akhirnya aku sampai di kamar.Ku rebahkan tubuhku di atas kasurku yang empuk.Ku pejamkan sejenak mataku.Ku rasakan air mataku mengalir kembali di pipiku.Ku ambil fotoku bersama Rangga yang ada di meja samping tempat tidur.
"Rangga.Kenapa kamu berubah? Kamu udah gak sayang lagi yah sama aku? Apa kamu udah capek sama aku?" kataku lirih sambil membelai fotoku bersama Rangga yang ku pegang itu.Aku menangis sembari memeluk fotoku bersama Rangga.Tanpa sadar aku sudah berada di dalam alam bawah sadarku.
***
09.45 a.m
"Milkaa..Kamu gak kuliah apa? Ini udah jam berapa coba?" teriak Bisma dari luar kamar sambil gedor-gedor pintu.Aku segera bangun dan melihat jam bekerku yang ada di meja samping tempat tidur.
"Haahh? Jam 09.45? Aku telaaatt kakaaakkk...Kenapa gak di bangunin dari tadi sih?" teriakku dari dalam kamar sambil membereskan tempat tidur terburu-buru.
"Laahh biasanya kamu juga bangun paling awal adek.Jadi mana kakak tau kalo kamu belom bangun."
"Iyaa..iyaa..Ini bangun." teriakku.
Aku segera masuk kamar mandi dan cepat-cepat mandi.Setelah mandi aku langsung turun menyaut kunci mobil kakakku yang ada di meja makan.
"Kak pinjem mobil,aku gak di jemput sama Rangga." kataku.
"Gak sarapan dulu dek?" tawar Rafael.
"Gak usah kak.Ntar aku sarapan di kantin ajah! Aku udah telat kak.Bye kakak.." kataku lagi sambil mencium pipi kakakku.
Aku segera tancap gas menuju kampus.Aku heran,tumben Rangga kayak gini.Biasanya kan dia yang paling rutin bangunin dan antar jemput aku setiap hari.Tapi kenapa sekarang Rangga kayak gini? Entahlah! Rangga emang bener-bener udah berubah.
Sesampainya aku di kampus,ku parkirkan mobilku dan segera berlari menuju kelasku.Namun ketika aku melewati koridor kampus,aku berpapasan dengan Rangga.Rangga tampak cuek padaku.Aku tak mengerti apa yang terjadi dengan Rangga.Akupun tak terlalu memperduliknnya.Ku lanjutkan lariku menuju ke kelas dan sampailah aku di kelas musik.Untung saja dosen belum datang.Syukurlah,aku bisa berlega hati.Aku segera melangkahkan kakiku menuju meja yang biasa ku tempati.Keadaan kelas tak seperti biasanya yang ramai dan padat.Ini malah sebaliknya,keadaan kelas sepi,ya ada sih satu ataupun dua orang di kelas.Aku bingung,sungguh bingung.Nafasku masih terengah-engah.Tiba-tiba ketiga sahabatku datang dan mengagetkanku.
"Woey neng,bengong ajah lo!" teriak Dicky.
"Masya allah Dicky..Elo bikin gue kaget deh." kataku manyun.
"Lagian pagi-pagi udah ngelamun.Kesambet tau rasa lo!" kata Dicky lagi.
"Gue capek lagi Dick lari-lari dari parkiran ampe sini.Gue kira kelas udah masuk,gak taunya kelas malah sepi." keluhku.
"Yaiyalah sepi orang anak-anak pada keliaran di luar.Kan dosennya gak berangkat." kata Reza.
"Hah? Sumpeh lo dosen gak berangkat?" tanyaku tak yakin.
"Iyalah,katanya sih dosen lagi ada ujian masuk PNS trus dia ambil cuti jadi kelas di biarin kosong deh." jelas Reza.
"Yaudah dari pada kita bengong,mending kita ke kantin ajah yuk.Laper gue." ajak Ilham.
"Yuk dah,gue juga laper.Gara-gara gue buru-buru gue jadi belom sempet sarapan." kataku.
Akhirnya kami ber empat pun menuju ke kantin.Sampai kantin kami memesan makanan dan minuman,lalu duduk di meja paling pojok dekat fakultas hukum,alias fakultasnya Rangga.Ketika aku sedang asyik-asyiknya minum,tiba-tiba Reza mengagetkanku.
"Milkaa..Milkaa...Coba liat deh,itukan......." ucapan Reza terputus.
Aku segera menoleh ke arah yang di tunjuk Reza.Rangga? Benarkah Rangga? Aku melihat Rangga! Tapi sama siapa dia? Kok sama cewek? Apa Rangga selingkuh di belakangku? Ah tapi gak mungkin dia kan sayang banget sama aku.Tapi kok mereka mesra banget yah? Ya Tuhan.......Beribu pertanyaan muncul di benakku.Hatiku serasa sesak dan perih,Ketiga sahabatku memandangku sayu.
"Milkaa yang sabar yah!" kata Dicky merangkul dan mengelus pundakku.
"Ih elo kenapa deh?Biasa ajah lagi.Dia kan cuma partnernya Rangga doang.Gak usah lebay deh." kataku seraya melepaskan rangkulan Dicky.
"Milkaaa..." seru mereka bertiga sambil memelukku.
Entah mengapa rasanya aku ingin menangis,tapi aku harus bisa kuat di hadapan mereka.Aku gak boleh nangis di depan mereka.Aku juga gak mau mereka tahu apa yang terjadi antara aku dan Rangga.Betapa berat rasanya ketika aku harus menyeka air mataku.
"Ih apadeh,kenapa sih pada peluk-peluk gue? Gue gak papa lagi,liat deh gue gak papa kan?" kataku sambil menunjukkan keadaanku.
"Tapi kenapa lo nangis?" tanya Ilham.
"Hah? Gue nangis? Enggak lagi.Gue cuman kelilipan tau,makanya jadi nangis.Perih nih." kataku masih sambil menyeka air mata.Reza menarikku dan menatapku dalam.
"Milka udah deh,lo gak usah pura-pura kuat gitu.Kita tau sekarang sama perasaan lo.Gue yakin lo pasti sakit kan liat Rangga berduaan sama cewek itu." bentak Reza.
"Reza apaan sih,gue gak papa lagi Za.Lagian tuh cewek juga belom tentu selingkuhan Rangga kan.Udah deh yah,gak usah di bahas lagi.Mending sekarang kita pergi aja deh.Gue udah gak mood makan nih." ajakku.
Kamipun pergi meninggalkan kantin.Di depan kantin,kami melewati Rangga.Rangga hanya terdiam terpaku melihatku lewat di hadapannya.
***
Sudah dua bulan Rangga tak menyapa ataupun menghubungiku.Jika bertemu tersenyum saja tidak.Aku tak tahu,mengapa sampai saat ini aku masih bisa bertahan dengan Rangga.Padahal akhir-akhir ini hubungan kami gak jelas.Ya mungkin karena kekuatan cinta aku bisa bertahan untuknya walau sakit.
Ketika aku merasa jenuh di dalam rumah,akupun keluar rumah untuk menghirup udara segar.Tapi tiba-tiba ketika pintu rumah ku buka,aku melihat ada sebucket bunga di depan pintu.Ku lihat ada seselip kertas di sela-sela bunga.Di kertas itu tertulis 'Temui aku di danau cinta jam empat sore nanti.' Aku langsung tahu siapa yang mengirimiku sebucket bunga dan secarik kertas itu.
***
Aku sudah berada di danau cinta.Ku lihat sebuah mobil Honda Jazz berwarna hitam datang.Ya itu Rangga.Kekasihku yang lama tak ku jumpai.Ranggapun segera turun dari mobil dan segera menghampiriku.
"Haaii sayang.Apa kabarmu? Maafkan aku yang lama tak pernah menghubungi dan menyapamu akhir-akhir ini." katanya seraya memelukku melepas rindu.
"Haii juga sayang.Kabarku baik-baik saja.Gak papa kok,aku bisa ngertiin kamu.Pasti akhir-akhir ini kamu sibuk ngurusin skripsi." kataku tersenyum.Rangga menatapku tersenyum seraya mengacak lembut rambutku.Diapun segera duduk di sampingku.
Duapuluh menit telah berlalu.Tapi tak ada satu patah katapun terucap dariku atau Rangga.Sampai akhirnya kuberanikan diri menanyakan sesuatu hal yang mengganjal di hatiku pada Rangga.
"Rangga,cewek yang sama kamu dua bulan yang lalu itu siapa?" tanyaku
"Yang mana sayang?" kata Rangga balik bertanya.
"Yang waktu itu kita ketemu di kantin" kataku mengingatkan.
"Oh itu sepupu aku sayang.Dia baru pindah dari Belanda,dan kebetulan satu fakultas juga sama aku.Kenapa kamu cemburu yah?" goda Rangga.
"Ihh apaan sih Rangga."
"tapi iyakan?" goda Rangga lagi.
"Iya deh aku ngaku.." kataku menyerah.Rangga tertawa puas.Sudah lama kami tak bercanda seperti ini.Tiba-tiba Rangga menggenggam tanganku.
"Oh iyah Milka,aku mau minta maaf sama kamu."
"Minta maaf kenapa? Kamu itu gak ada salah sama aku tau!" kataku memegang pipi Rangga.
"Maafkan aku yang sudah terlalu memaksamu untuk berubah selama ini.Aku sadar,kamu adalah kamu dan gak akan pernah bisa jadi orang lain." katanya memegang tanganku yang ada di pipinya.
"Aku benar-benar minta maaf Milkaa.Aku bersalah padamu." lanjutnya.
"Rangga,sejahat apapun kamu padaku aku gak akan pernah benci ataupun marah sama kamu.Pintu maafku selalu terbuka untukmu.Tanpa kamu minta maaf,aku udah maafin kamu duluan." kataku menatapnya dalam.
"Karena cintaku hanya untukmu,karena cintaku untukmu aku bisa memaafkanmu,dan karena cintaku untukmu juga aku bisa bertahan untukmu walaupun kamu udah nyakitin aku beribu kali." lanjutku sambil membelai lembut pipinya.
"Milkaaa..Aku sayang kamu.." katanya sambil memelukku.
"Aku jugaa Rangga.."
"Milka,aku mohon,ajari aku untuk bisa menjadi yang selalu kau cinta..Aku rela melakukan apapun demi kamu sayang.I heart you.." katanya mencium keningku.
Aku tersenyum bahagia.Akhirnya kekasih yang ku sayangi bisa menyadari semuanya.Rangga memelukku erat dan hangat.Akupun menangis bahagia di pelukannya.
THE END
Selasa, 09 Juli 2013
Senin, 08 Juli 2013
BEDA?
AKU dan KAMU
Mengapa harus ada perbedaan disaat cinta ini mulai tumbuh? Mengapa harus ada penghalang antara AKU dan KAMU sehingga kita tak dapat dipersatukan? Mengapa harus ada sebuah pembentang yang tak kami inginkan saat ini? Inginku,AKU dan KAMU bisa bersatu tanpa ada halangan apapun.Menjalin kisah kasih yang akan mencatat sebuah kisah yang baru.Menghasilkan sebuah cerita yang bisa membuat AKU dan KAMU tersenyum geli.Membawa kisah cintaku untuk menjadikan sebuah amal yang telah Tuhan amanahkan.
Tapi apa yang terjadi antara AKU dan KAMU saat ini? Nyatanya ada satu perbedaan yang menjadi penghalang sekaligus pembentang antara AKU dan KAMU.Tuhan memang satu adanya,tapi memang pada dasarnya kita yang tak sama.Mengapa Tuhan memberikan rasa ini jika kita tak dipersatukan? Ingin rasanya aku menjerit kesakitan.Bukan sakit dalam jasmani yang kurasakan.Melainkan sakit rohani,sakit batin yang menusuk relung hatiku yang sudah terlanjur menyayangimu.
Bisakah aku menyayangimu walaupun ada satu pembentang yang tak mungkin kita tembus? Atau,bisakah kita bersatu walaupun harus menyakiti pihak yang telah melarang AKU dan KAMU untuk menembus benteng itu? Sayangnya aku tak terlalu BODOH untuk melakukan hal busuk semacam itu.Lebih baik aku yang sakit ketimbang aku harus menyakiti orangtuaku sendiri.
Aku hanya ingin,kisah kita ini hanya menjadi sebuah cerita yang mungkin hanya bisa kita kenang.Aku hanya ingin kisah kita ini tak ada yang merasakan lagi.Cukup AKU dan KAMU saja yang merasakan sakitnya cinta yang terhalang oleh sebuah perbedaan.Bagaikan cakrawala yang saat ini tak lagi terbentuk indah.Hatiku bagaikan kaca pecah yang mungkin lebih pantas dibuang ke tempat sampah.Sangat menyakitkan kisah yang menjadi perjalanan cintaku ini.
Haruskah aku terus menyayangimu walaupun perbedaan jelas terbentang diantara kita? Haruskah aku terus mencintaimu walaupun cinta kita tak dapat dipersatukan? Haruskah pula aku terus mengingatmu disaat pertentangan dari kedua belah pihak tersebut mulai mendesak AKU dan KAMU agar segera berpisah?
Aku bingung.Cara apa yang harus aku ambil untuk kedepannya? Tuhaaannn,jika dia memang bukan untukku hapuslah rasa ini dari hatiku.Berikanlah dia orang yang seiman dan lebih menyayanginya ketimbang aku Ya Tuhaann.Jangan kau berikan rasa cinta itu kepada orang yang bukan seiman lagi dengannya.Karena sebuah perbedaan,akan membuat sebuah goresan luka yang tak akan pernah bisa terobati oleh siapapun.Namun jika dia Kau ciptakan memang untukku,berikanlah kekuatan agar aku dapat mempertahankan hubungan ini kedepannya.
***
Aku berlari mendekati jendela Gereja itu.Aku mulai melihat ia sedang berdo’a pada Tuhan dengan khusyu’nya.Aku tak mengetahui pasti apa yang sedang ia adukan pada Tuhan.Aku berhenti tepat didepan pintu Gereja.Sambil membawa sebuah kotak berwarna ungu akupun mulai kelelahan berdiri dan pada akhirnya akupun menunggu Geo dengan duduk di tengah-tengah tangga Gereja.
“Eh kamu kok disini? Kenapa gak nunggu di danau ajah? Biasanya kan juga disana.” Tanya Geo sambil mengacak pelan rambutku.
“Lagi pengen ajah nunggu kamu disini.” Jawabku tersenyum.
“Oh iyah Ge,sekali-sekali aku pengen dong tahu do’amu.Kayaknya tiap aku nganter kamu ke Gereja do’amu khusyu’ banget deh.” Tanyaku penasaran.
“Kamu mau tahu ajah apa mau tahu banget nihh?” kata Geo yang mulai menggodaku.
“Iiihh Geo,seriusan..” Jawabku yang mulai memanyunkan bibirku.
“Yaudah,yaudah aku kasih tahu yah.Aku berdo’a sama Tuhan biar kita dikasih kekuatan buat ngejalanin hubungan ini.Aku gak mau hubungan kita kandas cuman gara-gara ego orangtua kita doang.Kita harus buktiin walaupun kita ini beda tapi kita saling melengkapi” Ucapnya dengan tersenyum lebar.
“Sekarang udah tahu kan apa yang aku aduin ke Tuhan selama ini.” Ucap Geo,dan seperti biasa dia selalu mengacak-acak pelan rambutku.
“Iyah,iyah.Yaudah ah,pulang yuk!” Ajakku kemudian.
***
“Kamu ngapain nganter-nganter anak saya lagi? Sudah beberapa kali saya ingatkan JANGAN PERNAH DEKATI ANAK SAYA LAGI!” bentak Ayah tiba-tiba.
“Tapi Om,sekarang sudah malam,mana mungkin saya membiarkan Nara pulang sendiri.” Kata Geo seakan meminta pengertian.
“Dia sudah besar,dia bisa jaga dirinya sendiri.Kamu gak usah lagi sok merhatiin dia.” Teriak Ayah lagi.
“Tapi Om,saya cinta sama Nara Om.Kenapa Om gak pernah bisa buat berusaha merestui hubungan saya dengan Nara.Apa Om gak mau lihat Nara bahagia sama orang yang dicintainya?”
“Gak usah sok ngajarin saya deh kamu! Saya orangtuanya Nara,dan saya yang tahu apa yang terbaik buat dia dan apa yang gak baik buat dia.Jelas-jelas kamu sama Nara itu beda iman.Saya gak mau anak saya punya tali cinta sama orang yang beda imannya.Sekarang saya minta KAMU PERGI SEKARANG JUGA DAN JANGAN PERNAH KAMU HUBUNGI ANAK SAYA LAGI!” Bentak Ayah untuk kesekian kalinya lalu Ayah mulai menutup kasar pintu ruang tamu.Aku menangis melihat semua kejadian itu.
“Kenapa kamu masih berhubungan sama anak itu? KENAPA NARA? Sudah beberapa kali Ayah bilang,sudahi hubungan kamu dengan dia! Percuma kamu nerusin hubungan ini,kamu gak akan pernah bisa jadi satu sama dia.” Nasihat Ayah yang mulai meredakan emosinya.
“Nara cinta Yah sama Geo.Nara pengen bisa seneng kayak orang-orang diluar sana.” Tangisku terisak.
“Mendingan sekarang kamu masuk ke kamar dan istirahat.Wajah kamu seperti kelelahan.” Kata Ayah yang mulai merasa iba denganku.Akupun mulai beranjak masuk ke dalam menuju kamarku.
***
Hari ini aku kembali menemani Geo ke Gereja.Melihat ia berdo’a dengan khusyu’,membuatku malu karena aku tak pernah ada usaha untuk mempertahankan hubungan ini.Dengan tak terasa air mataku mulai menetes.
“Ya Allah,mengapa Kau memberikan rasa ini kepadaku jika restu dari orangtua kami sulit untuk didapatkan?” Kataku yang mulai duduk tersungkur di tembok luar Gereja itu.Sepertinya aku mulai goyah untuk mempertahankan hubungan ini.Tiba-tiba seseorang menepuk pelan bahuku.
“Nara,kamu kenapa nangis?” tanya orang itu yang ternyata adalah Geo.Geopun akhirnya membantuku untuk segera berdiri kembali.
“Aku capek Geo tiap hari Ayah marah-marah terus sama aku.Mendesak supaya hubunganku dengan kamu disudahi saja.Aku mulai jenuh Geo dengan desakan-desakan itu.Benar-benar jenuuhh..” tangisku yang lalu mulai menggema.
“Nara,sekarang aku mau bilang sama kamu.Selama ini kamu kan yang bilang kalau sebuah perbedaan itu adalah sebuah kekuatan yang wajib kita lengkapi.Tapi sekarang gimana sama kita? Nyatanya kamu malah gampang banget goyah.Payah ah!” kata Geo yang berusaha membangkitkan kegoyahanku.
“Geoo,ini bukan waktunya bercanda tauukk!!” kataku merengek.
“Hahahaa,yaudah-yaudah sekarang kita lanjutin jalan ajah yuk!” Ajak Geo.
“Gak usah deh Ge,aku pengen pulang ajah.Aku udah capek banget.” Kataku dengan lesu.
“Aku anter yah.” Tawar Geo.
“Gak usah Ge,aku bisa pulang sendiri kok.”
“Kok tumben? Biasanya kamu yang minta aku anterin.”
“Aku butuh waktu sendiri dulu Ge.”
“Yaudah,kamu hati-hati yah pulangnya! Aku duluan.” Pamit Geo.
“Iyahh,udah sanah.Hati-hati yah sayang.”
***
Aku baru ingat kalau dulu Geo pernah memberikanku sebuah kotak berwarna ungu.Aku bahkan hampir lupa untuk membukanya.Sejak kotak itu ada ditanganku,aku belum sempat membukanya.Akupun berjalan menuju rak tempat dimana aku menyimpan kotak itu.Setelah ku temukan,segera saja aku buka kotak tersebut.Di dalamnya terdapat sebuah kotak merah berbentuk hati dan ada secarik kertas terselip di bawahnya.
“Teruntuk kekasih tercintaku: Nara Amanda
Jeleekkk,aku beliin ini nih buat kamu.Biar kamu bisa inget aku terus.Terlebih-lebih,biar kamu bisa tambah cantik dengan adanya ini.Aku mohon,jangan pernah lelah untuk selalu mencintaiku.Jangan pernah sekali saja kamu goyah dengan rasa cintamu itu karena desakan-desakan orangtua kita.Kita harus bisa membuktikan pada orangtua kita,bahwa perbedaan diantara kita adalah sebuah kekuatan yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun kecuali maut.Aku ingin selamanya hidup denganmu,bersanding bagaikan Raja dan Ratu sehari.Memiliki buah hati yang lucu nan imut seperti kamu.Pokoknya pesen aku satu buat kamu,kita harus bisa buat perjuangin cinta kita! OKE!! CUMUNGUTT SAYANG!!
Dari kekasih tercintamu: Georgius Novaska Putra :-*”
Aku mulai membuka kotak berwarna merah yang berbentuk hati tersebut.Dan akupun mulai meneteskan air mata.Betapa terharunya aku ketika kulihat isinya adalah sebuah liontin berbentuk hati.Untuk saat ini,aku benar-benar mulai malu dengan banyaknya usaha Geo untuk mempertahankan hubungan kami.
***
Hari ini aku tak menemani Geo untuk beribadah seperti biasa di Gereja,karena aku sedang ada jadwal sekolah yang sangat padat.Ujian Nasional telah didepan mata,dan mau tak mau aku harus siap untuk menghadapi ujian tersebut.Aku hanya bisa menyusul Geo di Gereja untuk mengatakan hal yang sangat penting.Ketika Geo keluar dari Gereja,aku segera berlari untuk mendekatinya.
“Geoo..!!” teriakku.
“Eh Nara,katanya schedule padet.Gimana sih? Sok ngartis ah kamu.” Goda Geo.
“Maaf,aku baru bisa nyusul kamu sekarang.Aku mau ngomong penting sama kamu.” Kataku mulai serius.
“Ih mau ngomong apa coba? Serius banget sih? Mau ngelamar aku yah?” Goda Geo lagi.
“Geooo,please serius.Aku lagi gak pengen bercanda Ge!”
“Hahahaa..Oke,okee.Mau ngomong apa sih? Jadi penasaran aku.” Kata Geo mulai penasaran.
“Aku minta PUTUS!” kataku dengan mempertegas kata PUTUS.Aku mencoba untuk tidak menangis di hadapan Geo karena hal ini.Aku melihat wajah Geo yang seketika berubah.
“Nara,jangan main-main ah.Gak lucu tau.”
“Aku gak main-main Ge.Aku udah capek sama semua ini.Aku pengen hidup tenang tanpa bayang-bayang desakan orangtua.Lagi pula aku pengen fokus buat Ujian Nasional yang hampir di depan mata.Aku pengen tenang di sisa waktu yang seharusnya bisa aku pergunakan untuk belajar,bukan untuk memikirkan masalah ini.” Kataku berhenti berbicara sejenak,lalu aku mulai membuka tasku dan mengambil sebuah kotak berwarna ungu pemberian Geo kemarin.
“Dan ini,liontin pemberian kamu kemarin aku kembaliin.” Kataku sambil menyodorkan kotak berwarna ungu tersebut.
“Tapi Ra,kenapa kamu jadi plin-plan gini sih? Katamu dulu perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi,bukan untuk dipisahkan.Dan katamu dulu perbedaan adalah sebuah kekuatan yang harus bisa kita pertahankan! Mana bukti dari kata-kata bijakmu itu? Kenapa kamu jadi kayak gini?” Kata Geo dengan suara parau.
“Tapi gak selamanya perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi.Perbedaan kita ini udah akut Ge,gak bisa buat di ganggu gugat.Ini udah urusan sama Tuhan.Aku gak berani kalau udah ada sangkut pautnya sama Tuhan.Dan satu lagi Ge,gak selamanya perbedaan bakal jadi kekuatan yang harus bisa di pertahanin.Maaf Ge,maafin aku yang gak bisa buat mempertahankan hubungan kita.” Ucapku terakhir.
Akupun kemudian berlari.Beranjak pergi dari tempat yang seharusnya aku tak berada disini.Aku merasa lega,bahkan aku bisa untuk tidak menangis saat ini.Tapi entahlah nanti.Mungkin,ini memang jalan yang terbaik yang harus aku ambil.Aku tak sanggup bila hidup terus di bayang-bayangi dengan desakan-desakan yang membuatku benar-benar tertekan.Semoga Tuhan akan memberikan Geo seorang wanita yang lebih baik, lebih menyayangi dia di bandingkan aku dan tak kurang, seiman dengannya.
THE END
Mengapa harus ada perbedaan disaat cinta ini mulai tumbuh? Mengapa harus ada penghalang antara AKU dan KAMU sehingga kita tak dapat dipersatukan? Mengapa harus ada sebuah pembentang yang tak kami inginkan saat ini? Inginku,AKU dan KAMU bisa bersatu tanpa ada halangan apapun.Menjalin kisah kasih yang akan mencatat sebuah kisah yang baru.Menghasilkan sebuah cerita yang bisa membuat AKU dan KAMU tersenyum geli.Membawa kisah cintaku untuk menjadikan sebuah amal yang telah Tuhan amanahkan.
Tapi apa yang terjadi antara AKU dan KAMU saat ini? Nyatanya ada satu perbedaan yang menjadi penghalang sekaligus pembentang antara AKU dan KAMU.Tuhan memang satu adanya,tapi memang pada dasarnya kita yang tak sama.Mengapa Tuhan memberikan rasa ini jika kita tak dipersatukan? Ingin rasanya aku menjerit kesakitan.Bukan sakit dalam jasmani yang kurasakan.Melainkan sakit rohani,sakit batin yang menusuk relung hatiku yang sudah terlanjur menyayangimu.
Bisakah aku menyayangimu walaupun ada satu pembentang yang tak mungkin kita tembus? Atau,bisakah kita bersatu walaupun harus menyakiti pihak yang telah melarang AKU dan KAMU untuk menembus benteng itu? Sayangnya aku tak terlalu BODOH untuk melakukan hal busuk semacam itu.Lebih baik aku yang sakit ketimbang aku harus menyakiti orangtuaku sendiri.
Aku hanya ingin,kisah kita ini hanya menjadi sebuah cerita yang mungkin hanya bisa kita kenang.Aku hanya ingin kisah kita ini tak ada yang merasakan lagi.Cukup AKU dan KAMU saja yang merasakan sakitnya cinta yang terhalang oleh sebuah perbedaan.Bagaikan cakrawala yang saat ini tak lagi terbentuk indah.Hatiku bagaikan kaca pecah yang mungkin lebih pantas dibuang ke tempat sampah.Sangat menyakitkan kisah yang menjadi perjalanan cintaku ini.
Haruskah aku terus menyayangimu walaupun perbedaan jelas terbentang diantara kita? Haruskah aku terus mencintaimu walaupun cinta kita tak dapat dipersatukan? Haruskah pula aku terus mengingatmu disaat pertentangan dari kedua belah pihak tersebut mulai mendesak AKU dan KAMU agar segera berpisah?
Aku bingung.Cara apa yang harus aku ambil untuk kedepannya? Tuhaaannn,jika dia memang bukan untukku hapuslah rasa ini dari hatiku.Berikanlah dia orang yang seiman dan lebih menyayanginya ketimbang aku Ya Tuhaann.Jangan kau berikan rasa cinta itu kepada orang yang bukan seiman lagi dengannya.Karena sebuah perbedaan,akan membuat sebuah goresan luka yang tak akan pernah bisa terobati oleh siapapun.Namun jika dia Kau ciptakan memang untukku,berikanlah kekuatan agar aku dapat mempertahankan hubungan ini kedepannya.
***
Aku berlari mendekati jendela Gereja itu.Aku mulai melihat ia sedang berdo’a pada Tuhan dengan khusyu’nya.Aku tak mengetahui pasti apa yang sedang ia adukan pada Tuhan.Aku berhenti tepat didepan pintu Gereja.Sambil membawa sebuah kotak berwarna ungu akupun mulai kelelahan berdiri dan pada akhirnya akupun menunggu Geo dengan duduk di tengah-tengah tangga Gereja.
“Eh kamu kok disini? Kenapa gak nunggu di danau ajah? Biasanya kan juga disana.” Tanya Geo sambil mengacak pelan rambutku.
“Lagi pengen ajah nunggu kamu disini.” Jawabku tersenyum.
“Oh iyah Ge,sekali-sekali aku pengen dong tahu do’amu.Kayaknya tiap aku nganter kamu ke Gereja do’amu khusyu’ banget deh.” Tanyaku penasaran.
“Kamu mau tahu ajah apa mau tahu banget nihh?” kata Geo yang mulai menggodaku.
“Iiihh Geo,seriusan..” Jawabku yang mulai memanyunkan bibirku.
“Yaudah,yaudah aku kasih tahu yah.Aku berdo’a sama Tuhan biar kita dikasih kekuatan buat ngejalanin hubungan ini.Aku gak mau hubungan kita kandas cuman gara-gara ego orangtua kita doang.Kita harus buktiin walaupun kita ini beda tapi kita saling melengkapi” Ucapnya dengan tersenyum lebar.
“Sekarang udah tahu kan apa yang aku aduin ke Tuhan selama ini.” Ucap Geo,dan seperti biasa dia selalu mengacak-acak pelan rambutku.
“Iyah,iyah.Yaudah ah,pulang yuk!” Ajakku kemudian.
***
“Kamu ngapain nganter-nganter anak saya lagi? Sudah beberapa kali saya ingatkan JANGAN PERNAH DEKATI ANAK SAYA LAGI!” bentak Ayah tiba-tiba.
“Tapi Om,sekarang sudah malam,mana mungkin saya membiarkan Nara pulang sendiri.” Kata Geo seakan meminta pengertian.
“Dia sudah besar,dia bisa jaga dirinya sendiri.Kamu gak usah lagi sok merhatiin dia.” Teriak Ayah lagi.
“Tapi Om,saya cinta sama Nara Om.Kenapa Om gak pernah bisa buat berusaha merestui hubungan saya dengan Nara.Apa Om gak mau lihat Nara bahagia sama orang yang dicintainya?”
“Gak usah sok ngajarin saya deh kamu! Saya orangtuanya Nara,dan saya yang tahu apa yang terbaik buat dia dan apa yang gak baik buat dia.Jelas-jelas kamu sama Nara itu beda iman.Saya gak mau anak saya punya tali cinta sama orang yang beda imannya.Sekarang saya minta KAMU PERGI SEKARANG JUGA DAN JANGAN PERNAH KAMU HUBUNGI ANAK SAYA LAGI!” Bentak Ayah untuk kesekian kalinya lalu Ayah mulai menutup kasar pintu ruang tamu.Aku menangis melihat semua kejadian itu.
“Kenapa kamu masih berhubungan sama anak itu? KENAPA NARA? Sudah beberapa kali Ayah bilang,sudahi hubungan kamu dengan dia! Percuma kamu nerusin hubungan ini,kamu gak akan pernah bisa jadi satu sama dia.” Nasihat Ayah yang mulai meredakan emosinya.
“Nara cinta Yah sama Geo.Nara pengen bisa seneng kayak orang-orang diluar sana.” Tangisku terisak.
“Mendingan sekarang kamu masuk ke kamar dan istirahat.Wajah kamu seperti kelelahan.” Kata Ayah yang mulai merasa iba denganku.Akupun mulai beranjak masuk ke dalam menuju kamarku.
***
Hari ini aku kembali menemani Geo ke Gereja.Melihat ia berdo’a dengan khusyu’,membuatku malu karena aku tak pernah ada usaha untuk mempertahankan hubungan ini.Dengan tak terasa air mataku mulai menetes.
“Ya Allah,mengapa Kau memberikan rasa ini kepadaku jika restu dari orangtua kami sulit untuk didapatkan?” Kataku yang mulai duduk tersungkur di tembok luar Gereja itu.Sepertinya aku mulai goyah untuk mempertahankan hubungan ini.Tiba-tiba seseorang menepuk pelan bahuku.
“Nara,kamu kenapa nangis?” tanya orang itu yang ternyata adalah Geo.Geopun akhirnya membantuku untuk segera berdiri kembali.
“Aku capek Geo tiap hari Ayah marah-marah terus sama aku.Mendesak supaya hubunganku dengan kamu disudahi saja.Aku mulai jenuh Geo dengan desakan-desakan itu.Benar-benar jenuuhh..” tangisku yang lalu mulai menggema.
“Nara,sekarang aku mau bilang sama kamu.Selama ini kamu kan yang bilang kalau sebuah perbedaan itu adalah sebuah kekuatan yang wajib kita lengkapi.Tapi sekarang gimana sama kita? Nyatanya kamu malah gampang banget goyah.Payah ah!” kata Geo yang berusaha membangkitkan kegoyahanku.
“Geoo,ini bukan waktunya bercanda tauukk!!” kataku merengek.
“Hahahaa,yaudah-yaudah sekarang kita lanjutin jalan ajah yuk!” Ajak Geo.
“Gak usah deh Ge,aku pengen pulang ajah.Aku udah capek banget.” Kataku dengan lesu.
“Aku anter yah.” Tawar Geo.
“Gak usah Ge,aku bisa pulang sendiri kok.”
“Kok tumben? Biasanya kamu yang minta aku anterin.”
“Aku butuh waktu sendiri dulu Ge.”
“Yaudah,kamu hati-hati yah pulangnya! Aku duluan.” Pamit Geo.
“Iyahh,udah sanah.Hati-hati yah sayang.”
***
Aku baru ingat kalau dulu Geo pernah memberikanku sebuah kotak berwarna ungu.Aku bahkan hampir lupa untuk membukanya.Sejak kotak itu ada ditanganku,aku belum sempat membukanya.Akupun berjalan menuju rak tempat dimana aku menyimpan kotak itu.Setelah ku temukan,segera saja aku buka kotak tersebut.Di dalamnya terdapat sebuah kotak merah berbentuk hati dan ada secarik kertas terselip di bawahnya.
“Teruntuk kekasih tercintaku: Nara Amanda
Jeleekkk,aku beliin ini nih buat kamu.Biar kamu bisa inget aku terus.Terlebih-lebih,biar kamu bisa tambah cantik dengan adanya ini.Aku mohon,jangan pernah lelah untuk selalu mencintaiku.Jangan pernah sekali saja kamu goyah dengan rasa cintamu itu karena desakan-desakan orangtua kita.Kita harus bisa membuktikan pada orangtua kita,bahwa perbedaan diantara kita adalah sebuah kekuatan yang tak akan pernah bisa dipisahkan oleh apapun kecuali maut.Aku ingin selamanya hidup denganmu,bersanding bagaikan Raja dan Ratu sehari.Memiliki buah hati yang lucu nan imut seperti kamu.Pokoknya pesen aku satu buat kamu,kita harus bisa buat perjuangin cinta kita! OKE!! CUMUNGUTT SAYANG!!
Dari kekasih tercintamu: Georgius Novaska Putra :-*”
Aku mulai membuka kotak berwarna merah yang berbentuk hati tersebut.Dan akupun mulai meneteskan air mata.Betapa terharunya aku ketika kulihat isinya adalah sebuah liontin berbentuk hati.Untuk saat ini,aku benar-benar mulai malu dengan banyaknya usaha Geo untuk mempertahankan hubungan kami.
***
Hari ini aku tak menemani Geo untuk beribadah seperti biasa di Gereja,karena aku sedang ada jadwal sekolah yang sangat padat.Ujian Nasional telah didepan mata,dan mau tak mau aku harus siap untuk menghadapi ujian tersebut.Aku hanya bisa menyusul Geo di Gereja untuk mengatakan hal yang sangat penting.Ketika Geo keluar dari Gereja,aku segera berlari untuk mendekatinya.
“Geoo..!!” teriakku.
“Eh Nara,katanya schedule padet.Gimana sih? Sok ngartis ah kamu.” Goda Geo.
“Maaf,aku baru bisa nyusul kamu sekarang.Aku mau ngomong penting sama kamu.” Kataku mulai serius.
“Ih mau ngomong apa coba? Serius banget sih? Mau ngelamar aku yah?” Goda Geo lagi.
“Geooo,please serius.Aku lagi gak pengen bercanda Ge!”
“Hahahaa..Oke,okee.Mau ngomong apa sih? Jadi penasaran aku.” Kata Geo mulai penasaran.
“Aku minta PUTUS!” kataku dengan mempertegas kata PUTUS.Aku mencoba untuk tidak menangis di hadapan Geo karena hal ini.Aku melihat wajah Geo yang seketika berubah.
“Nara,jangan main-main ah.Gak lucu tau.”
“Aku gak main-main Ge.Aku udah capek sama semua ini.Aku pengen hidup tenang tanpa bayang-bayang desakan orangtua.Lagi pula aku pengen fokus buat Ujian Nasional yang hampir di depan mata.Aku pengen tenang di sisa waktu yang seharusnya bisa aku pergunakan untuk belajar,bukan untuk memikirkan masalah ini.” Kataku berhenti berbicara sejenak,lalu aku mulai membuka tasku dan mengambil sebuah kotak berwarna ungu pemberian Geo kemarin.
“Dan ini,liontin pemberian kamu kemarin aku kembaliin.” Kataku sambil menyodorkan kotak berwarna ungu tersebut.
“Tapi Ra,kenapa kamu jadi plin-plan gini sih? Katamu dulu perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi,bukan untuk dipisahkan.Dan katamu dulu perbedaan adalah sebuah kekuatan yang harus bisa kita pertahankan! Mana bukti dari kata-kata bijakmu itu? Kenapa kamu jadi kayak gini?” Kata Geo dengan suara parau.
“Tapi gak selamanya perbedaan diciptakan untuk saling melengkapi.Perbedaan kita ini udah akut Ge,gak bisa buat di ganggu gugat.Ini udah urusan sama Tuhan.Aku gak berani kalau udah ada sangkut pautnya sama Tuhan.Dan satu lagi Ge,gak selamanya perbedaan bakal jadi kekuatan yang harus bisa di pertahanin.Maaf Ge,maafin aku yang gak bisa buat mempertahankan hubungan kita.” Ucapku terakhir.
Akupun kemudian berlari.Beranjak pergi dari tempat yang seharusnya aku tak berada disini.Aku merasa lega,bahkan aku bisa untuk tidak menangis saat ini.Tapi entahlah nanti.Mungkin,ini memang jalan yang terbaik yang harus aku ambil.Aku tak sanggup bila hidup terus di bayang-bayangi dengan desakan-desakan yang membuatku benar-benar tertekan.Semoga Tuhan akan memberikan Geo seorang wanita yang lebih baik, lebih menyayangi dia di bandingkan aku dan tak kurang, seiman dengannya.
THE END
Alhamdulillah, dapet juara hiburan lomba nulis cerpen :)
Stasiun Saksi Kepedihan
Hari ini aku merasa senang.Senang karena kekasihku yang lama pergi ke Surabaya akan kembali pulang ke Bandung.Tapi mengapa sampai detik ini ia belum memberi kabar padaku.Kontaknyapun mungkin kini telah diganti karena nomornya yang lama tak dapat dihubungi lagi.Tapi bukankah dulu sebelum ia pergi,ia sudah berjanji padaku bahwa tanggal 5 Januari 2009 ia akan kembali pulang.Itu berarti,hari ini bukan?
Aku segera mengeluarkan motorku yang berada di garasi belakang.Ku panasi motor yang akan aku pakai itu.Setelah itu,akupun segera meluncur ke stasiun untuk menjemput kekasihku itu.
***
Sudah 3 jam aku menunggu disini,namun tak kulihat kekasihku itu nampak turun dari kereta.Padahal sudah ada 7 kereta dari arah Surabaya yang sedari tadi hilir mudik.Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 12.35 WIB.
Udara siang inipun terasa sangat panas.Namun hal ini tak membuatku menyerah untuk menunggu kekasihku datang.Semakin lama haripun semakin sore.Namun aku belum juga melihat kekasihku menampakkan dirinya.
Ku lihat lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.Itu artinya detik ini rembulan sudah mulai menampakkan keindahannya.Aku beranjak dari dudukku kemudian mendekat ke arah bibir rel kereta api.Ku pandang langit malam yang cerah itu.Kulipat tanganku didepan dada,memeluk erat tubuhku sendiri.Seakan mencari kehangatan di malam yang dingin ini.Ku pejamkan sejenak mataku untuk berdo’a.
“Tuhaaann,sampaikan padanya bahwa aku menunggunya saat ini.Sampaikan pula bahwa aku rindu akan sosoknya yang selalu menemaniku dulu.” Ucapku dalam hati.
Setelah berdo’a,aku kembali membuka mataku.Kemudian aku beranjak pergi menuju tempat parkir stasiun untuk segera pulang.Ketika aku berjalan,ku dengar ada seseorang yang memanggilku.
“Alikaaaaa...!!” Panggilnya dengan suara lantang.
Aku terkejut sambil menghentikan langkahku.Aku berharap itu adalah Rafael,kekasihku yang sejak tadi pagi ku tunggu kedatangannya.Akupun segera berbalik badan dan memastikan bahwa Rafael lah yang memanggilku tadi.
“Raf..fa..ell...” Ucapanku semakin melirih.Aku terkejut,ternyata bukan Rafael yang memanggilku.Sosok itu kemudian berlari menghampiriku yang berada di ambang pintu stasiun.
“Eh Bisma,kirain Rafael.” Kataku seraya menundukkan kepala.
“Kamu nungguin Rafael? Dari kapan?” Tanya Bisma memegang pundakku.Aku segera mendongakkan kembali wajahku.
“Dari tadi pagi.” Jawabku dengan paksaan senyum di bibirku.
“Apa,dari tadi pagi? Dan sampai saat ini dia belum datang?” Tanya Bisma lagi dengan nada emosi.
Aku hanya tersenyum,membuatnya yakin bahwa tak ada masalah yang menerpaku saat ini.Bagiku ini adalah hal biasa,mungkin ia lupa bahwa hari ini ia akan kembali pulang.Aku berusaha untuk memakluminya saja.
“Kamu darimana? Jam segini baru pulang?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku dari Jakarta,tadi ada pemotretan di salah satu Agency di Jakarta.Males naik mobil,jadi naik kereta ajah deh ” Jawabnya sambil tersenyum,menampakkan sederet behel yang terpasang di giginya.
“Ciieehh,yang jadi model.” Godaku.Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Bisma,walaupun saat ini aku merasakan gundah yang luar biasa.
“Apa sih? Udah deh,jadi malu aku.” Kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Pulang yuk! Udah malem nih.Kamu bawa motor kan?” Tanya Bisma.
“Iyah.’ Jawabku tersenyum.
“Sini aku boncengin.Kamu aku antar pulang yah ”
“Trus kamu pulangnya?”
“Aku gampang! Lagian kamu kan cewek,gak baik pulang sendirian malem-malem gini.” Kata Bisma mengacak pelan rambutku.
“Oke ” Jawabku kemudian.Akupun segera menyerahkan kunci motorku kepada Bisma dan kamipun segera pergi dari stasiun ini.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun.Sudah 2 minggu ini aku bolak-balik stasiun untuk menjemput Rafael.Namun apa hasilnya? NIHIL.
Selama 2 minggu ini Rafael tak nampak di stasiun ini.Padahal pada janjinya dulu,harusnya ia sudah pulang 2 minggu yang lalu.Aku melamun dengan sendirinya.Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda bahwa ada telepon masuk.Akupun segera sadar dari lamunanku itu kemudian segera mengangkat telepon.
“Halo..” Kataku ramah.
“Haloo Alika.Gimana kabar kamu?” Tanya suara itu yang sangat aku kenal.
“Rafael,aku kira kamu udah lupa sama aku.Kabarku baik kok Raf,kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanyaku gembira.Bahkan saking gembiranya akupun terperanjat dari dudukku dan melompat-lompat bagaikan anak kecil yang telah mendapatkan apa yang diinginkan.Sampai-sampai aku lupa,bahwa sekarang aku sedang berada di tempat umum.
Setelah beberapa menit mengobrol lewat telepon,akhirnya teleponpun disudahi.Aku kembali pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.Bahagia karena sabtu besok Rafael positif akan pulang ke Bandung.
***
Aku melihat sosok Bisma berjalan melewati koridor kampus.Ku panggil ia dengan suara lantang.
“Bismaaaa...” Teriakku.Bismapun menghentikan jalannya dan berbalik badan,kemudian akupun berlari untuk menghampirinya.
“Alika,ada apa? Tumben manggil aku?” Tanya Bisma.
“Gak papa.Lama gak ketemu yah? Lagi Sibuk yah kamuu?” Kataku mulai menggodanya lagi.
“Yaaa,seperti yang kamu tahu Al.” Katanya tersenyum.
Kamipun melanjutkan jalan menuju ke kantin.Sekedar untuk sharing dan akupun mulai menceritakan pada Bisma tentang semua hal yang aku alami kemarin.
“Oh iyah Al,besok sabtu Rafael pulang kan?” Tanya Bisma disela-sela curhatku.
“Iya Bis,besok kita jemput Rafael yuk Bis di stasiun!” Ajakku.
“Sorry nih Al,bukannya aku gak mau nih,tapi sabtu besok kebetulan aku ada pemotretan lagi nih di Jakarta.Gimana dong?” Kata Bisma sambil mengernyitkan dahinya.
“Yaudah kalo gitu.Aku berangkat sendiri ajah deh.” Kataku menebarkan senyum bahagiaku.
“Kamu gak papa kan sendiri?” Tanya Bisma.
“Gak papa kok Bis.”
***
Hari ini aku sudah berada di stasiun.Aku hanya berangkat sendiri,karena Bisma tidak bisa ikut denganku untuk menjemput Rafael.Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.
“Masih jam 09.00 WIB.” Kataku lirih.Tiba-tiba kereta api dari arah Surabaya datang.Aku segera beranjak dan mulai celingukan mencari Rafael.
“Rafael lewat mana yaa?” Batinku sambil masih celingukan.
Tiba-tiba aku melihat Rafael turun dari kereta tersebut sambil menggandeng seorang perempuan.Siapakah perempuan itu? Adiknyakah? Tapi kurasa bukan.Adiknya berada disini,dan kulihat wajahnyapun juga sangat asing bagiku.Dengan beribu pertanyaan dalam batinku,akupun mulai menghampiri Rafael.
“Haii Raf.” Sapaku.Aku melihat gelagat Rafael yang terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disini.
“Eh Alika.Kamu ngapain disini?” Tanya Rafael dengan tampang yang gugup.
“Aku disini? Ya mau jemput kamu lah Raf!” Kataku sambil menepuk pelan bahu Rafael.
“Oh iyah Raf,itu siapa? Saudara kamu yaa?” Tanyaku dengan senyum yang berbinar.Belum sempat Rafael menjawab,akupun mengenalkan diriku pada perempuan itu.
“Hai aku Alika,pacarnya Rafael.Kamu siapa ya?” Kataku sambil mengulurkan tangan.Pandangannya sungguh menakutkan.Ia melirik ke arah Rafael,dan kulihat Rafael juga takut dengan pandangannya.
“Saya Marsha,tunangannya Rafael.” Ucapnya dengan nada sedikit memojokkan.
Aku terdiam sejenak mendengar perkataan perempuan itu.Tubuhku kaku seperti terkena aliran listrik ribuan watt.Hatiku seperti tersambar petir yang menggelegar.Air mataku serasa sudah di ujung pelupuk mata.Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.Apakah ini adalah sebuah kejutan yang telah dirangkai Rafael sebelumnya,atau ini adalah fakta.
Ku pandang Rafael dengan penuh rasa berharap.Berharap bahwa semua ini hanyalah sandiwara belaka.Namun Rafael hanya menggelengkan kepalanya.Ia lalu mulai mendekati perempuan yang bernama Marsha itu,kemudian aku melihat ia berbisik kepada Marsha.Setelah itu,kulihat Marsha mulai berjalan keluar stasiun mendahului Rafael dan kemudian iapun mulai mendekatiku.
“Besok akan aku jelaskan.Aku tunggu kamu disini tepat jam 09.00 WIB.I love you Alika.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku lalu pergi meninggalkanku yang terbujur kaku di bibir pintu kereta api.
Pengunjung stasiun berlalu lalang melewatiku.Aku kembali mundur dan duduk terkulai lemas di kursi tunggu stasiun.Aku menangis,tak menyangka bahwa Rafael akan setega ini.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati dan memberiku sebuah saputangan.
“Ini buatmu! Jangan nangis lagi yah! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang Rafael!” Katanya yang lalu duduk di sampingku.Aku segera mengambil saputangan itu dan segera melihat siapa yang memberiku saputangan ini.
“Bisma..” Kataku terkejut.
“Makasih saputangannya.Tapi bukannya kamu ada pemotretan di Jakarta ya?” Tanyaku sambil melap air mataku.
“Tadinya sih ada,tapi jadwalnya di undurin jadi minggu depan.Aku fikir,daripada aku dirumah sendirian,mendingan aku susulin kamu.Eh tapi ternyata,kamu disini bukannya seneng malah nangis.” Jelasnya sambil mengernyitkan dahinya.Aku diam sejenak,lalu aku mulai angkat bicara.
“Bis,Rafael...” Kata-kataku terpotong.
“Rafael punya gandengan baru kan?” Ucap Bisma.Aku menganggukan kepalaku.
“Tadi aku ketemu dia sama cewek lain didepan.Aku kira cewek itu kamu,ternyata setelah aku deketin itu bukan kamu.Yaudah,sabar ajah! Dia begitu pasti ada alasannya kok.” Ucap Bisma lagi.
“Udah ah,pulang yuk! Biar kamu bisa lanjutin nangismu itu dirumah.Kan gak enak kalo nangis disini.Dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.Kan gak lucu dong?” Kata Bisma yang mulai mencoba untuk menghiburku dengan senyum khasnya.Akupun menurut,dan kamipun segera beranjak pulang.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun untuk menemui Rafael.Ia bilang,ia akan datang menemuiku tepat pukul 09.00 WIB.Ku lirik jam tanganku.
“5 menit lagi.” Kataku tak sabar.
Belum tepat pukul 09.00 WIB,Rafael sudah menampakkan dirinya.Ku lihat ia kebingungan mencari keberadaanku.Akupun melambaikan tanganku dan ia pun berlari untuk segera mendekatiku.
“Hai Alikaa.” Sapanya.
“Hai Raf.” Balasku.
“Maaf atas perlakuanku kemarin.Aku rindu padamu Al,sangat rindu.” Katanya yang langsung memelukku.
Pelukan ini,pelukan yang dulu ku rasa hangat dan nyaman,sekarang terasa hambar.Ku rasa pula saat ini adalah pelukan terakhirku yang tak akan pernah ku rasakan lagi bersama Rafael kelak.Aku tak mampu lagi untuk membalas pelukannya.Air mataku serasa telah di ujung pelupuk mata.Ku lepaskan pelukan itu sambil menyeka air mataku.
“Kamu kesini bukannya mau jelasin sesuatu yah? Ayo dong jelasin ke aku,jangan bikin aku penasaran gini.” Kataku lembut mencoba kembali bersabar.Kamipun duduk di kursi tunggu stasiun.
***
“Sebenarnya aku juga gak cinta sama Marsha,tapi mau gimana lagi? Aku hutang budi sama Papanya yang udah bikin aku sesukses ini.” Jelasnya.
“Lalu bagaimana dengan aku Raf? Dengan hubungan kita yang udah lebih dari 5 tahun ini?” Tanyaku yang mulai serius.
“Lebih baik kamu lupakan aku! Aku ini bukan yang terbaik untukmu.Aku tak ingin membuatmu sakit hati terus-menerus.” Jawabnya dengan suara yang mulai parau.
“Maksudmu,hubungan kita cukup sampai disini Raf?”
Rafael tak mampu menjawab.Ia hanya sanggup menganggukkan kepaalanya,menandakan bahwa keputusannya untuk berpisah denganku sudah bulat.Akupun mulai beranjak dari dudukku.
“Oke,kalau itu maumu aku yang akan pergi dari kehidupanmu! Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.Semoga kamu bahagia dengan Marsha-mu itu Raf!” Kataku yang mulai beranjak emosi.Aku dengan sigap melepaskan kemudian melemparkan sebuah cincin pemberian Rafael dulu yang selalu ada di jari manisku.
Aku berlari meninggalkan ia yang meratapi keputusannya.Dari jauh ku lihat ia menangis,menyesali semuanya.Aku tahu ia pasti juga sakit hati dan merasakan rapuh di jiwanya.Tapi apakah ia tahu bahwa aku lebih sakit hati dan rapuh di banding ia? Namun aku selalu mencoba untuk menepis semua perasaan itu.Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang tegar,kuat dan mampu menahan segala rasa sakit yang aku rasakan.
Aku terus berlari.Pergi menjauh dari stasiun ini.Stasiun yang menyisakan sebuah memory tentang kesetiaanku yang hanya berujung luka.Stasiun yang telah menyaksikan perjalanan cintaku selama 2 minggu terakhir ini.Stasiun yang telah menjadi saksi kepedihan cintaku berpisah dengan orang yang selama ini aku tunggu dan aku cinta.
THE END
Hari ini aku merasa senang.Senang karena kekasihku yang lama pergi ke Surabaya akan kembali pulang ke Bandung.Tapi mengapa sampai detik ini ia belum memberi kabar padaku.Kontaknyapun mungkin kini telah diganti karena nomornya yang lama tak dapat dihubungi lagi.Tapi bukankah dulu sebelum ia pergi,ia sudah berjanji padaku bahwa tanggal 5 Januari 2009 ia akan kembali pulang.Itu berarti,hari ini bukan?
Aku segera mengeluarkan motorku yang berada di garasi belakang.Ku panasi motor yang akan aku pakai itu.Setelah itu,akupun segera meluncur ke stasiun untuk menjemput kekasihku itu.
***
Sudah 3 jam aku menunggu disini,namun tak kulihat kekasihku itu nampak turun dari kereta.Padahal sudah ada 7 kereta dari arah Surabaya yang sedari tadi hilir mudik.Ku lihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 12.35 WIB.
Udara siang inipun terasa sangat panas.Namun hal ini tak membuatku menyerah untuk menunggu kekasihku datang.Semakin lama haripun semakin sore.Namun aku belum juga melihat kekasihku menampakkan dirinya.
Ku lihat lagi jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganku.Jam menunjukkan pukul 18.50 WIB.Itu artinya detik ini rembulan sudah mulai menampakkan keindahannya.Aku beranjak dari dudukku kemudian mendekat ke arah bibir rel kereta api.Ku pandang langit malam yang cerah itu.Kulipat tanganku didepan dada,memeluk erat tubuhku sendiri.Seakan mencari kehangatan di malam yang dingin ini.Ku pejamkan sejenak mataku untuk berdo’a.
“Tuhaaann,sampaikan padanya bahwa aku menunggunya saat ini.Sampaikan pula bahwa aku rindu akan sosoknya yang selalu menemaniku dulu.” Ucapku dalam hati.
Setelah berdo’a,aku kembali membuka mataku.Kemudian aku beranjak pergi menuju tempat parkir stasiun untuk segera pulang.Ketika aku berjalan,ku dengar ada seseorang yang memanggilku.
“Alikaaaaa...!!” Panggilnya dengan suara lantang.
Aku terkejut sambil menghentikan langkahku.Aku berharap itu adalah Rafael,kekasihku yang sejak tadi pagi ku tunggu kedatangannya.Akupun segera berbalik badan dan memastikan bahwa Rafael lah yang memanggilku tadi.
“Raf..fa..ell...” Ucapanku semakin melirih.Aku terkejut,ternyata bukan Rafael yang memanggilku.Sosok itu kemudian berlari menghampiriku yang berada di ambang pintu stasiun.
“Eh Bisma,kirain Rafael.” Kataku seraya menundukkan kepala.
“Kamu nungguin Rafael? Dari kapan?” Tanya Bisma memegang pundakku.Aku segera mendongakkan kembali wajahku.
“Dari tadi pagi.” Jawabku dengan paksaan senyum di bibirku.
“Apa,dari tadi pagi? Dan sampai saat ini dia belum datang?” Tanya Bisma lagi dengan nada emosi.
Aku hanya tersenyum,membuatnya yakin bahwa tak ada masalah yang menerpaku saat ini.Bagiku ini adalah hal biasa,mungkin ia lupa bahwa hari ini ia akan kembali pulang.Aku berusaha untuk memakluminya saja.
“Kamu darimana? Jam segini baru pulang?” Tanyaku mengalihkan pembicaraan.
“Aku dari Jakarta,tadi ada pemotretan di salah satu Agency di Jakarta.Males naik mobil,jadi naik kereta ajah deh ” Jawabnya sambil tersenyum,menampakkan sederet behel yang terpasang di giginya.
“Ciieehh,yang jadi model.” Godaku.Aku berusaha untuk bersikap biasa saja didepan Bisma,walaupun saat ini aku merasakan gundah yang luar biasa.
“Apa sih? Udah deh,jadi malu aku.” Kata Bisma sambil menggaruk-garuk kepalanya.
“Pulang yuk! Udah malem nih.Kamu bawa motor kan?” Tanya Bisma.
“Iyah.’ Jawabku tersenyum.
“Sini aku boncengin.Kamu aku antar pulang yah ”
“Trus kamu pulangnya?”
“Aku gampang! Lagian kamu kan cewek,gak baik pulang sendirian malem-malem gini.” Kata Bisma mengacak pelan rambutku.
“Oke ” Jawabku kemudian.Akupun segera menyerahkan kunci motorku kepada Bisma dan kamipun segera pergi dari stasiun ini.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun.Sudah 2 minggu ini aku bolak-balik stasiun untuk menjemput Rafael.Namun apa hasilnya? NIHIL.
Selama 2 minggu ini Rafael tak nampak di stasiun ini.Padahal pada janjinya dulu,harusnya ia sudah pulang 2 minggu yang lalu.Aku melamun dengan sendirinya.Tiba-tiba handphone ku berbunyi tanda bahwa ada telepon masuk.Akupun segera sadar dari lamunanku itu kemudian segera mengangkat telepon.
“Halo..” Kataku ramah.
“Haloo Alika.Gimana kabar kamu?” Tanya suara itu yang sangat aku kenal.
“Rafael,aku kira kamu udah lupa sama aku.Kabarku baik kok Raf,kamu sendiri gimana kabarnya?” Tanyaku gembira.Bahkan saking gembiranya akupun terperanjat dari dudukku dan melompat-lompat bagaikan anak kecil yang telah mendapatkan apa yang diinginkan.Sampai-sampai aku lupa,bahwa sekarang aku sedang berada di tempat umum.
Setelah beberapa menit mengobrol lewat telepon,akhirnya teleponpun disudahi.Aku kembali pulang ke rumah dengan perasaan bahagia.Bahagia karena sabtu besok Rafael positif akan pulang ke Bandung.
***
Aku melihat sosok Bisma berjalan melewati koridor kampus.Ku panggil ia dengan suara lantang.
“Bismaaaa...” Teriakku.Bismapun menghentikan jalannya dan berbalik badan,kemudian akupun berlari untuk menghampirinya.
“Alika,ada apa? Tumben manggil aku?” Tanya Bisma.
“Gak papa.Lama gak ketemu yah? Lagi Sibuk yah kamuu?” Kataku mulai menggodanya lagi.
“Yaaa,seperti yang kamu tahu Al.” Katanya tersenyum.
Kamipun melanjutkan jalan menuju ke kantin.Sekedar untuk sharing dan akupun mulai menceritakan pada Bisma tentang semua hal yang aku alami kemarin.
“Oh iyah Al,besok sabtu Rafael pulang kan?” Tanya Bisma disela-sela curhatku.
“Iya Bis,besok kita jemput Rafael yuk Bis di stasiun!” Ajakku.
“Sorry nih Al,bukannya aku gak mau nih,tapi sabtu besok kebetulan aku ada pemotretan lagi nih di Jakarta.Gimana dong?” Kata Bisma sambil mengernyitkan dahinya.
“Yaudah kalo gitu.Aku berangkat sendiri ajah deh.” Kataku menebarkan senyum bahagiaku.
“Kamu gak papa kan sendiri?” Tanya Bisma.
“Gak papa kok Bis.”
***
Hari ini aku sudah berada di stasiun.Aku hanya berangkat sendiri,karena Bisma tidak bisa ikut denganku untuk menjemput Rafael.Ku lirik jam tangan yang melingkar dipergelangan tanganku.
“Masih jam 09.00 WIB.” Kataku lirih.Tiba-tiba kereta api dari arah Surabaya datang.Aku segera beranjak dan mulai celingukan mencari Rafael.
“Rafael lewat mana yaa?” Batinku sambil masih celingukan.
Tiba-tiba aku melihat Rafael turun dari kereta tersebut sambil menggandeng seorang perempuan.Siapakah perempuan itu? Adiknyakah? Tapi kurasa bukan.Adiknya berada disini,dan kulihat wajahnyapun juga sangat asing bagiku.Dengan beribu pertanyaan dalam batinku,akupun mulai menghampiri Rafael.
“Haii Raf.” Sapaku.Aku melihat gelagat Rafael yang terkejut melihatku yang tiba-tiba berada disini.
“Eh Alika.Kamu ngapain disini?” Tanya Rafael dengan tampang yang gugup.
“Aku disini? Ya mau jemput kamu lah Raf!” Kataku sambil menepuk pelan bahu Rafael.
“Oh iyah Raf,itu siapa? Saudara kamu yaa?” Tanyaku dengan senyum yang berbinar.Belum sempat Rafael menjawab,akupun mengenalkan diriku pada perempuan itu.
“Hai aku Alika,pacarnya Rafael.Kamu siapa ya?” Kataku sambil mengulurkan tangan.Pandangannya sungguh menakutkan.Ia melirik ke arah Rafael,dan kulihat Rafael juga takut dengan pandangannya.
“Saya Marsha,tunangannya Rafael.” Ucapnya dengan nada sedikit memojokkan.
Aku terdiam sejenak mendengar perkataan perempuan itu.Tubuhku kaku seperti terkena aliran listrik ribuan watt.Hatiku seperti tersambar petir yang menggelegar.Air mataku serasa sudah di ujung pelupuk mata.Aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.Apakah ini adalah sebuah kejutan yang telah dirangkai Rafael sebelumnya,atau ini adalah fakta.
Ku pandang Rafael dengan penuh rasa berharap.Berharap bahwa semua ini hanyalah sandiwara belaka.Namun Rafael hanya menggelengkan kepalanya.Ia lalu mulai mendekati perempuan yang bernama Marsha itu,kemudian aku melihat ia berbisik kepada Marsha.Setelah itu,kulihat Marsha mulai berjalan keluar stasiun mendahului Rafael dan kemudian iapun mulai mendekatiku.
“Besok akan aku jelaskan.Aku tunggu kamu disini tepat jam 09.00 WIB.I love you Alika.” Ucapnya sambil mengacak pelan rambutku lalu pergi meninggalkanku yang terbujur kaku di bibir pintu kereta api.
Pengunjung stasiun berlalu lalang melewatiku.Aku kembali mundur dan duduk terkulai lemas di kursi tunggu stasiun.Aku menangis,tak menyangka bahwa Rafael akan setega ini.Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati dan memberiku sebuah saputangan.
“Ini buatmu! Jangan nangis lagi yah! Air matamu terlalu berharga hanya untuk menangisi seorang Rafael!” Katanya yang lalu duduk di sampingku.Aku segera mengambil saputangan itu dan segera melihat siapa yang memberiku saputangan ini.
“Bisma..” Kataku terkejut.
“Makasih saputangannya.Tapi bukannya kamu ada pemotretan di Jakarta ya?” Tanyaku sambil melap air mataku.
“Tadinya sih ada,tapi jadwalnya di undurin jadi minggu depan.Aku fikir,daripada aku dirumah sendirian,mendingan aku susulin kamu.Eh tapi ternyata,kamu disini bukannya seneng malah nangis.” Jelasnya sambil mengernyitkan dahinya.Aku diam sejenak,lalu aku mulai angkat bicara.
“Bis,Rafael...” Kata-kataku terpotong.
“Rafael punya gandengan baru kan?” Ucap Bisma.Aku menganggukan kepalaku.
“Tadi aku ketemu dia sama cewek lain didepan.Aku kira cewek itu kamu,ternyata setelah aku deketin itu bukan kamu.Yaudah,sabar ajah! Dia begitu pasti ada alasannya kok.” Ucap Bisma lagi.
“Udah ah,pulang yuk! Biar kamu bisa lanjutin nangismu itu dirumah.Kan gak enak kalo nangis disini.Dikira aku ngapa-ngapain kamu lagi.Kan gak lucu dong?” Kata Bisma yang mulai mencoba untuk menghiburku dengan senyum khasnya.Akupun menurut,dan kamipun segera beranjak pulang.
***
Hari ini aku kembali lagi ke stasiun untuk menemui Rafael.Ia bilang,ia akan datang menemuiku tepat pukul 09.00 WIB.Ku lirik jam tanganku.
“5 menit lagi.” Kataku tak sabar.
Belum tepat pukul 09.00 WIB,Rafael sudah menampakkan dirinya.Ku lihat ia kebingungan mencari keberadaanku.Akupun melambaikan tanganku dan ia pun berlari untuk segera mendekatiku.
“Hai Alikaa.” Sapanya.
“Hai Raf.” Balasku.
“Maaf atas perlakuanku kemarin.Aku rindu padamu Al,sangat rindu.” Katanya yang langsung memelukku.
Pelukan ini,pelukan yang dulu ku rasa hangat dan nyaman,sekarang terasa hambar.Ku rasa pula saat ini adalah pelukan terakhirku yang tak akan pernah ku rasakan lagi bersama Rafael kelak.Aku tak mampu lagi untuk membalas pelukannya.Air mataku serasa telah di ujung pelupuk mata.Ku lepaskan pelukan itu sambil menyeka air mataku.
“Kamu kesini bukannya mau jelasin sesuatu yah? Ayo dong jelasin ke aku,jangan bikin aku penasaran gini.” Kataku lembut mencoba kembali bersabar.Kamipun duduk di kursi tunggu stasiun.
***
“Sebenarnya aku juga gak cinta sama Marsha,tapi mau gimana lagi? Aku hutang budi sama Papanya yang udah bikin aku sesukses ini.” Jelasnya.
“Lalu bagaimana dengan aku Raf? Dengan hubungan kita yang udah lebih dari 5 tahun ini?” Tanyaku yang mulai serius.
“Lebih baik kamu lupakan aku! Aku ini bukan yang terbaik untukmu.Aku tak ingin membuatmu sakit hati terus-menerus.” Jawabnya dengan suara yang mulai parau.
“Maksudmu,hubungan kita cukup sampai disini Raf?”
Rafael tak mampu menjawab.Ia hanya sanggup menganggukkan kepaalanya,menandakan bahwa keputusannya untuk berpisah denganku sudah bulat.Akupun mulai beranjak dari dudukku.
“Oke,kalau itu maumu aku yang akan pergi dari kehidupanmu! Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita.Semoga kamu bahagia dengan Marsha-mu itu Raf!” Kataku yang mulai beranjak emosi.Aku dengan sigap melepaskan kemudian melemparkan sebuah cincin pemberian Rafael dulu yang selalu ada di jari manisku.
Aku berlari meninggalkan ia yang meratapi keputusannya.Dari jauh ku lihat ia menangis,menyesali semuanya.Aku tahu ia pasti juga sakit hati dan merasakan rapuh di jiwanya.Tapi apakah ia tahu bahwa aku lebih sakit hati dan rapuh di banding ia? Namun aku selalu mencoba untuk menepis semua perasaan itu.Aku hanya ingin menjadi seorang wanita yang tegar,kuat dan mampu menahan segala rasa sakit yang aku rasakan.
Aku terus berlari.Pergi menjauh dari stasiun ini.Stasiun yang menyisakan sebuah memory tentang kesetiaanku yang hanya berujung luka.Stasiun yang telah menyaksikan perjalanan cintaku selama 2 minggu terakhir ini.Stasiun yang telah menjadi saksi kepedihan cintaku berpisah dengan orang yang selama ini aku tunggu dan aku cinta.
THE END
Kamis, 04 Juli 2013
Pergi..
Kesepian hati ini..
Bersamaku, membunuh jiwaku..
Hatiku terasa sepi. Jiwaku serasa kosong. Kehampaan yang ku rasakan kini, telah menyiksa batinku. Beribu benda tajam serasa menancap ke dalam ulu hatiku. Air mataku serasa telah mengering. Tubuhku lemah dan tak berdaya lagi. Mengingat kini hidupku tanpa dirinya lagi. Tangisan demi tangisanpun terus bersahutan.
Dinginnya udara pagi ini serasa merasuk ke dalam tulangku. Tak akan ada kehangatan lagi yang dulu pernah kurasakan bersamanya. Mata ini, terus memandang pada seseorang yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu. Tubuhnya dingin, kaku seperti tak bernyawa lagi. Senyumnya mengembang bagaikan seorang yang sedang dilanda bahagia.
Tatapan matanya yang sayu dan hangat, tak akan pernah kurasakan lagi. Mata itu, mata yang biasanya memancarkan seberkas kedamaian di dalam hatiku, kini telah tertutup pergi untuk selamanya. Tak ada kata-kata terakhirnya untukku. Tak ada pesan sedikitpun untukku supaya bangkit dari keterpurukan. Jiwa ini, serasa ikut pergi bersamanya.
"Tuhaann.. Ijinkan ia terbangun sebentar dari tidurnya. Ijinkan nyawanya kembali walau hanya sepersekian detik. Ijinkan ia terbangun dan memelukku dengan penuh kehangatan untuk terakhir kalinya," ucapku lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Aku berharap, Tuhan mendengarkan bibir mungil ini memohon pada-Nya. Aku berharap, Tuhan akan segera mengabulkan do'aku dan segera mengembalikan nyawanya lagi. Namun nyatanya, ku rasa Tuhan memang terlalu sayang padanya hingga Ia tak mengijinkan nyawanya kembali pada raga di depanku ini. Tuhaaannn... Kuatkanlah aku. Dewasakan aku setelah kepergiannya. Aku percaya takdirmu untukku akan indah pada waktunya kelak. Aku percaya Kau telah mempersiapkan segudang kebahagiaan yang akan aku rasakan juga kelak.
***
Seseorang yang selama ini menjadi penopang dalam hidupku, seseorang yang selama ini telah mengajarkan aku tentang kebaikan, kini telah pergi dengan damainya. Tak pernah sedikitpun aku melihatnya lelah menuntunku menuju ke jalan yang benar. Takdir itu, telah merenggut separuh dari kebahagiaan hidupku yang ku punya selama ini. Semangatku, serasa telah pergi bersamanya. Pergi dengan meninggalkan sebercak luka yang menggores hatiku hingga luka ini menganga terlalu lebar. Tak ada yang bisa mengobati luka ini, kecuali jika nyawanya kembali pada raga yang kini telah menjadi tanah.
Sedikit demi sedikit aku memulai kehidupanku yang baru untuk membangun semangat yang baru. Tersadar dan mulai terbangun dari mimpi buruk yang selama ini menyelimutiku. Aku kembali berfikir. Semua yang telah pergi ketempat-Nya tak akan pernah bisa kembali lagi. Terlebih lagi raganya kini telah kembali menjadi tanah. Hey, aku hidup untuk masa depan! Masa lalu adalah bahan pembelajaran untuk masa depan.
Yang harus aku lakukan saat ini adalah berdo'a. Berdo'a untuk ketenangannya di alam sana. Aku yakin dia selalu memantauku walau wujudnya tak dapat aku lihat. Aku yakin dia selalu melindungiku walau raganya tak dapat menyentuhku. Aku yakin Tuhan punya rencana indah untuk hidupku kelak. Kini namanya akan selalu menemani kerinduanku.
Engkaulah nafasku,
yang menjaga di dalam hidupku,
kau ajarkan aku menjadi yang terbaik..
Kau tak pernah lelah,
sebagai penopang dalam hidupku,
kau berikan aku semua yang terindah..
Aku hanya memanggilmu, Ayah
di saatku kehilangan arah,
aku hanya mengingatmu, Ayah
jika aku telah jauh darimu..
Jum'at, 2 September 2005.
Bersamaku, membunuh jiwaku..
Hatiku terasa sepi. Jiwaku serasa kosong. Kehampaan yang ku rasakan kini, telah menyiksa batinku. Beribu benda tajam serasa menancap ke dalam ulu hatiku. Air mataku serasa telah mengering. Tubuhku lemah dan tak berdaya lagi. Mengingat kini hidupku tanpa dirinya lagi. Tangisan demi tangisanpun terus bersahutan.
Dinginnya udara pagi ini serasa merasuk ke dalam tulangku. Tak akan ada kehangatan lagi yang dulu pernah kurasakan bersamanya. Mata ini, terus memandang pada seseorang yang terbaring lemah di atas tempat tidur itu. Tubuhnya dingin, kaku seperti tak bernyawa lagi. Senyumnya mengembang bagaikan seorang yang sedang dilanda bahagia.
Tatapan matanya yang sayu dan hangat, tak akan pernah kurasakan lagi. Mata itu, mata yang biasanya memancarkan seberkas kedamaian di dalam hatiku, kini telah tertutup pergi untuk selamanya. Tak ada kata-kata terakhirnya untukku. Tak ada pesan sedikitpun untukku supaya bangkit dari keterpurukan. Jiwa ini, serasa ikut pergi bersamanya.
"Tuhaann.. Ijinkan ia terbangun sebentar dari tidurnya. Ijinkan nyawanya kembali walau hanya sepersekian detik. Ijinkan ia terbangun dan memelukku dengan penuh kehangatan untuk terakhir kalinya," ucapku lirih, bahkan hampir tak terdengar.
Aku berharap, Tuhan mendengarkan bibir mungil ini memohon pada-Nya. Aku berharap, Tuhan akan segera mengabulkan do'aku dan segera mengembalikan nyawanya lagi. Namun nyatanya, ku rasa Tuhan memang terlalu sayang padanya hingga Ia tak mengijinkan nyawanya kembali pada raga di depanku ini. Tuhaaannn... Kuatkanlah aku. Dewasakan aku setelah kepergiannya. Aku percaya takdirmu untukku akan indah pada waktunya kelak. Aku percaya Kau telah mempersiapkan segudang kebahagiaan yang akan aku rasakan juga kelak.
***
Seseorang yang selama ini menjadi penopang dalam hidupku, seseorang yang selama ini telah mengajarkan aku tentang kebaikan, kini telah pergi dengan damainya. Tak pernah sedikitpun aku melihatnya lelah menuntunku menuju ke jalan yang benar. Takdir itu, telah merenggut separuh dari kebahagiaan hidupku yang ku punya selama ini. Semangatku, serasa telah pergi bersamanya. Pergi dengan meninggalkan sebercak luka yang menggores hatiku hingga luka ini menganga terlalu lebar. Tak ada yang bisa mengobati luka ini, kecuali jika nyawanya kembali pada raga yang kini telah menjadi tanah.
Sedikit demi sedikit aku memulai kehidupanku yang baru untuk membangun semangat yang baru. Tersadar dan mulai terbangun dari mimpi buruk yang selama ini menyelimutiku. Aku kembali berfikir. Semua yang telah pergi ketempat-Nya tak akan pernah bisa kembali lagi. Terlebih lagi raganya kini telah kembali menjadi tanah. Hey, aku hidup untuk masa depan! Masa lalu adalah bahan pembelajaran untuk masa depan.
Yang harus aku lakukan saat ini adalah berdo'a. Berdo'a untuk ketenangannya di alam sana. Aku yakin dia selalu memantauku walau wujudnya tak dapat aku lihat. Aku yakin dia selalu melindungiku walau raganya tak dapat menyentuhku. Aku yakin Tuhan punya rencana indah untuk hidupku kelak. Kini namanya akan selalu menemani kerinduanku.
Engkaulah nafasku,
yang menjaga di dalam hidupku,
kau ajarkan aku menjadi yang terbaik..
Kau tak pernah lelah,
sebagai penopang dalam hidupku,
kau berikan aku semua yang terindah..
Aku hanya memanggilmu, Ayah
di saatku kehilangan arah,
aku hanya mengingatmu, Ayah
jika aku telah jauh darimu..
Jum'at, 2 September 2005.
Selasa, 02 Juli 2013
Mengikuti Permainanmu
Aku hanya mengikuti jalan ceritamu dan permainanmu. Rela berkorban dan sudah pasti akan menjadi korban. Aku sudah tau segala konsekuensinya, bodohnya aku tetap saja bertahan.
Tapi aku kuat kok! Kamu, membuat aku menjadi kuat dan cepat dewasa.
Walaupun sebenarnya, aku salah telah mengikuti jalan cerita dan permainanmu itu ;) Aku sadar, sangat-sangat sadar. Tuhan pun bahkan telah menyadarkan aku untuk tidak terlibat dalam permainanmu itu. Tapi entah kenapa aku malah semakin dalam mengikuti permainanmu yang entah sampai kapan usainya.
Aku rasa Tuhan juga sudah bosan mengingatkan aku yang 'ngeyel'. Bahkan sekarang Ia membiarkan aku larut dalam permainan ini. Tuhaann, ku rasa sekarang aku sudah bosan mengikuti permainannya. Aku merasa lucu, sangat sangat lucu. Aku ini nyata, namun dianggap semu. Aku ini terlihat, namun dianggap tak terlihat. Aku ini ada, namun dianggap tak ada.
Permainan macam apa ini? Bosan, benar-benar bosan. Aku jadi ingat, waktu kamu lewat di depan aku tapi ga berasa ada aku. Aku jadi berasa kayak udara. Transparan. Ga dilirik, dan cuman diabaikan walaupun sebenernya dibutuhkan.
Langganan:
Komentar (Atom)